Tuesday, 30 September 2014

True Leader - Leading the transformation September 2011 - September 2014




True Leader
True leader has the confidence to stand alone, the courage to make tough decision and the compassion to listen to the needs of others. 
He does not set out to be a leader but becomes one by the quality of his actions and the integrity of his intent.
In the end, leaders are much like eagle...
They do not flock;
You find them one at a time.
                                                30 September 2014
                                                Sonny & The Sharia Team members

Pak Jun - Leading the tranformation at BNI Life September 2011 - September 2014



Pak Jun
              Hadir saat BNI Life diterpa gelombang
Dengan sepak terjang yang membuat tercengang...
Tak jarang hadir perlawanan menghadang...
Tak sedikit kekecewaan muncul menghalang...
Tapi bukti nyata menjadi  saksi...
Kinerja perusahaan terus mendaki...
Reputasi BNI Life makin diakui...
Wajah-wajah ceria di tengah kerja,
terutama saat musim bonus tiba.
Dibalik keseriusan dan ketegasannya...
Dia adalah sosok yang telah berjasa...
Membuat BNI Life semakin berjaya.
                                           20 September 2014
                                           Pungky, Corporate Communications Team

Sunday, 24 August 2014

Article in BANI Newsletters: Efektifitas Klausul Arbitrase Dalam Meningkatkan Kualitas Perjanjian Asuransi











Monday, 18 August 2014

Interview : Membidik Bancassurance Terbesar

bincang bisnis- Ahmad Junaedy Ganie, Direktur Utama BNI Life: Membidik Bancassurance Terbesar di Indonesia
Republika, Monday, 11 August 2014, 13:30 WIB
''Kemajuan takkan pernah terjadi tanpa perubahan. Dan mereka yang tak bisa merubah cara berpikir takkan pernah bisa mengubah apa pun.'' Entah disadari atau tidak, kalimat sastrawan besar George Bernard Shaw sedang benar-benar dilakukan sang nakhoda BNI Life saat ini. Ia, Direktur Utama BNI Life Ahmad Junaedy Ganie mengubah berbagai hal yang ada di anak usaha salah satu bank terbesar di Indonesia tersebut. Mulai dari pola bisnis, perubahan produk, jam kerja, hingga cara berpikir. Juga tak lupa memindahkan lokasi kantor pusat BNI Life.

Jika dahulu kantor BNI Life berada di belakang SPBU, kini berdiri berhadap-hadapan dengan sang induk, PT BNI (Persero) TBK.









Foto:Republika/Adhi Wicaksono
Direktur Utama BNI Life A Junaedy Ganie

Bagi dia, perubahan itu penting khususnya bagaimana masyarakat memandang brand BNI Life. Begitu juga karyawan sendiri memandang perusahaan yang mereka bangun. Berikut petikan wawancara reporter Republika, Ichsan Emrald Alamsyah dan pewarta foto Adhi Wicaksono.

BNI Life kini telah berubah, bagaimana proses perubahan itu berlangsung?
Semuanya dimulai ketika direksi BNI Life mulai menjabat pada 20 September tahun 2011, di mana sebentar lagi menjelang tiga tahun masa jabatan kami. Waktu kami menerima tanggung jawab ini, ada mandat yang kami terima, yang pertama adalah melakukan akselerasi nilai-nilai korporasi. Jadi, kami harus menemukan dan membangun, sehingga BNI Life memiliki nilai-nilai yang tinggi. Dalam arti bukan hanya sekadar harga perusahaan, namun juga integritas, aspek identitas, budaya, dan aspek praktik bisnis.

Kemudian, menjadikan bancassurance sebagai backbone  (tulang punggung) perusahaan. Awalnya ketika kami masuk bisnis yang besar adalah dari agensi, padahal BNI adalah anak usaha BNI, salah satu bank terbesar di Indonesia. Pangsa pasar kita sendiri sangat kecil, sehingga kami punya tekad yang kuat untuk maju.

Selanjutnya adalah revitalisasi agensi. Sejak 2004 terus merugi dan saat ini kami mengubah menjadi entiti yg menghasilkan laba.

Kemudian, strategi produk dalam mendukung pencapaian profitabilitas dan pertumbuhan yang berkelanjutan. Salah satunya menghentikan puluhan produk agensi.

Intinya kami membuat produk yg berguna namun tak merugikan perusahaan. Salah satunya tak fokus pada premi single. Selain itu, tata kelola perusahaan (coorporate governance) berjalan sempurna. Termasuk membentuk risk management. Selain itu membangun perusahaan dengan dukungan sumber daya insani yang andal. Terakhir tentu saja mempersiapkan perusahaan menjadi menarik bagi calon strategic partner.

Anda mengatakan dengan kehadiran Sumitomo Life akan mengarahkan bancassurance sebagai channel bisnis utama, sebenarnya berapa kontribusinya?
Kami percaya bancassurance akan menjadi tulang punggung perusahaan. Karena kami menyadari bancassurance yang dimiliki perusahaan induk yaitu BNI,  masih memiliki potensi sangat besar. Artinya, ketika kami melihat bisnis di dalam sendiri sangat besar dan nasabah juga mereka yang percaya BNI, alangkah baiknya BNI life menggali potensi yang ada tersebut.

Karena tentunya kami menilai jika nasabah kami percaya dengan BNI maka juga akan meyakini BNI Life. Sehingga, kami berharap prosesnya akan jauh lebih mudah untuk mendapat kepercayaan nasabah.

Akan tetapi, bukan berarti kami akan melupakan tiga lini bisnis lainnya. Khususnya syariah yang tumbuh hampir di level 100 persen. Di mana itu merupakan refleksi dari pertumbuhan yang sangat bagus, sementara tahun sebelumnya bisa tumbuh hingga 46-48 persen.

Apakah ada rencana spin-off untuk unit syariah?
Satu hal yang kami ketahui, regulator berencana meluncurkan aturan mengenai syariah. Artinya, kami akan mengikuti setiap langkah atau arahan dari regulator.

Jika regulator menetapkan kami dalam waktu satu atau dua tahun harus spin-off maka akan kami lakukan. Hanya saja, kami memang memiliki rencana untuk melakukan spin-off untuk unit syariah, hanya saja belum menetapkan waktunya.

Namun, tahun ini di mana modalnya senilai Rp 25 miliar maka akan ditingkatkan menjadi sangat besar. Berdasarkan business plan kami akan digelontorkan dana sehingga modalnya menjadi Rp 75 miliar sampai Rp 100 miliar.

Tentu saja, hal itu menunggu persetujuan pemegang saham. Ini baru tahap perencanaan dan secara prinsip kesepakatan di tingkat direksi.

Apakah akan ada produk baru?
Belum lama ini kami meluncurkan produk baru. Beberapa di antaranya adalah  Purna Sejahtera, Spektra Health Care, dan masih ada beberapa yang masih di Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Produk yang ada di OJK masih belum bisa kami sampaikan.

Kemudian, kehadiran perwakilan Sumitomo Life saat ini diharapkan juga meningkatkan product development. Kami berharap dengan kehadiran perwakilan Sumitomo Life bisa terjadi replikasi produk yang bagus di Jepang, namun juga baik untuk masyarakat Indonesia.

BNI Life berharap menjadi salah satu asuransi pilihan, sebenarnya apa artinya?
Pengertian dasar dari Life insurance of choice adalah kami ingin bahwa bila masyarakat berpikir mengenai kebutuhan asuransi maka yang pertama kali terlintas adalah BNI Life. Cita-cita yang besar dan tak mudah karena kami ingin membuat BNI Life sebagai Household Names.

Artinya bukan hanya bank, namun juga asuransinya. Kapan waktunya, kami tak bisa menyebutkan. Hanya saja kami berharap itu menjadi surprise bagi pemegang saham.

Kenapa BNI Life memilih Sumitomo?
Sebenarnya jawaban sangat mudah, namun itu merupakan refleksi dari sesuatu yang sangat besar bahwa ternyata, baik BNI Life maupun Sumitomo memiliki landasan filosofis, baik visi misi perusahaan maupun rencana.

Apakah BNI Life akan melahirkan produk mikro?
Dari aspek ketentuan, perusahaan asuransi setidaknya harus memiliki mikro. Begitu juga ketika kita melihat kebutuhan masyarakat Indonesia bahwa masyarakat di bawah yang membutuhkannya.

Karena mereka yang butuh kepastian jaminan untuk keberlanjutan kelangsungan pendapatan. Sehingga, tidak ada salahnya perusahaan asuransi untuk bergerak juga di bidang mikro.

Kami pun termasuk salah satu perusahaan bergerak di mikro. Walaupun masih dalam tahap yang sangat kecil.

Namun, tahun ini kami bertekad untuk bergerak di bidang mikro secara signifikan. Detailnya belum bisa kami kemukakan, hanya saja yang bisa kami katakan adalah 2014 kami juga ingin dikenal sebagai salah satu perusahaan penyedia jasa asuransi mikro.

Tantangan dalam menuju transformasi fase kedua di BNI Life?
Terdapat sejumlah tantangan besar dalam fase kedua ini. Ekuitas perusahaan yang meningkat tinggi pada akhir fase pertama dari hanya sebesar Rp 400 miliar pada ujung fase pertama menjadi Rp 4,6 triliun tentunya akan diikuti oleh rencana pertumbuhan bisnis dan imbal hasil usaha yang lebih baik dari semua pemangku kepentingan.

Bentuk perusahaan yang telah menjadi sebuah perusahaan patungan dengan Sumitomo Life memiliki saham hampir 40 persen yang menyertakan tambahan direksi dan komisaris baru membawa perusahaan pada tahap asimilasi budaya kerja, termasuk dalam melakukan adopsi atas sejumlah praktik bisnis dari Sumitomo Life yang mungkin hendak diterapkan di BNI Life.

Pada saat yang bersamaan, cita kami untuk menjadikan bisnis bancassurance sebagai tulang punggung perusahaan dihadapkan pada wacana OJK untuk menerapkan aturan tertentu, khusus untuk bisnis bancassurance sehingga kami sangat mengharapkan regulator dalam hal ini mengkaji wacana tersebut secara lengkap dan bijak dan melibatkan para pakar dalam bisnis bancassurance di Indonesia.

Regulasi yang terkait dengan distribusi telemarketing telah menunjukkan dampak negatifnya bagi industri asuransi. Jangkauan telemarketing yang selama ini menjadi akses masuk yang membuka wawasan masyarakat tentang keberadaan proteksi asuransi yang memang mereka butuhkan yang ternyata dapat diperoleh dengan harga terjangkau menjadi surut. Kebijakan regulator dalam hal ini perlu disikapi dengan baik karena pertumbuhan asuransi melalui saluran telemarketing telah memberikan kontribusi yang berarti dalam meningkatkan kesadaran berasuransi masyarakat Indonesia. Adalah penting untuk menemukan solusi agar keluhan yang timbul terkait dengan saluran telemarketing diatasi dengan ketentuan yang berbeda.

Perlambatan pertumbuhan perekonomian Indonesia membawa perjalanan ke depan ini memasuki koridor baru. Persaingan tinggi perbankan di tengah likuiditas ketat memberikan tekanan prioritas kepada bank mitra kami yang mungkin berbeda dengan kepentingan industri asuransi. Menemukan kesamaan visi dan arah serta kepentingan bersama yang saling menguntungkan dan memberikan nilai tambah bagi nasabah perbankan melalui bisnis bancassurance menjadi tantangan tersendiri pula.

Secara mental, kami berharap upaya persiapan, pembentukan kultur budaya kerja dan bonding yang telah tanamkan selama SDM BNI Life menuju konversi menjadi sebuah perusahaan joint venture yang telah dicanangkan sejak awal transformasi tahap pertama akan membuat proses penyatuan ini berjalan lancar. Seleksi terhadap penerimaan karyawan baru harus disesuaikan dengan tuntutan dan lingkungan kerja yang berubah.

Transformasi tahap kedua yang bersamaan dengan fase transformasi pasar asuransi Asia Tenggara  (ASEAN)  memasuki implementasi Masyarakat Ekonomi Asian (MEA) 2015 membawa kita kepada  dimensi persaingan yang baru pula. Terpilihnya BNI Life sebagai peringkat pertama Best Life Insurer 2014 oleh Media Asuransi untuk kategori perusahaan dengan ekuitas Rp 250 miliar - Rp 750 miliar memberikan tanggung jawab tersendiri pula.
ed: irwan kelana

***
Asyiknya Pergi Berlibur Bersama


Dalam kesibukan yang dijalaninya, Direktur Utama BNI Life Ahmad Junaedy Ganie mengaku  tetap mengutamakan kebersamaan dengan keluarga. Mulai dari makan malam dan nonton film bersama, melakukan kegiatan olahraga bersama meskipun sekedar melakukannya pada waktu dan di tempat yang sama tetapi ada yang melakukan treadmill, ada yang berenang, dan bahkan ada yang berlatih Satria Nusantara.

"Pergi berlibur bersama selalu merupakan passion kami yang tidak harus selalu berbiaya mahal. Kebersamaan di rumah dilakukan mulai dari melakukan berbagai permainan kartu atau sekadar menonton televisi  atau berdiskusi tentang apa pun atau membawa jalan hewan peliharaan kami," tutur Junaedy.

Ia  juga meluangkan waktu untuk menambah pengetahuan dengan membaca berbagai jenis buku, menulis, atau sesekali meluangkan waktu baik sendiri atau ditemani. "Hal tersebut untuk  memenuhi minat saya terhadap budaya dan seni tradisional," ujarnya.

Saat ditanyakan apa yang menjadi target yang ingin dicapai dalam hidupnya, Junaedy mengatakan bahwa setiap insan mengemban suatu tanggung jawab. "Saya mengharapkan diberkahi kepercayaan untuk memberikan kontribusi dalam arti yang luas untuk kebaikan dan kemajuan banyak sejak dari lingkungan yang terkecil, yaitu keluarga, lingkungan tempat saya diberikan kepercayaan untuk memimpin, komunitas sosial, sampai pada lingkungan yang tidak terbatas sesuai dengan jangkauan kemampuan yang diizinkan oleh Yang Mahakuasa, sesuai dengan panutan dan ajaran-ajaran yang diberikan-Nya," paparnya.

Dalam lingkungan terdekat, ia juga terus berusaha untuk menjadi orang tua yang baik dan ini tidak mudah. "Sebagai anak, saya juga masih berjuang untuk menjadi anak yang baik. Sebagai pemimpin saya berharap dapat menjadi pemimpin yang bijak, inspiring, dan dapat menjadi coach atau mentor yang efektif dan berhasil menjadikan usaha yang dipimpin menjadi memilki daya saing yang tinggi," katanya.

Junaedy mengaku memiliki minat yang tinggi dalam capacity building yaitu menggali dan membangun potensi optimum dalam setiap individu sampai pada kontribusi dalam pembangunan karakter bangsa sehingga dapat ikut berperan dalam menjadikan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang bermartabat tinggi, mandiri, dan kreatif. "Saya mengagumi mereka yang menjadi legenda dalam bidang mereka masing-masing. Saya mengagumi mereka yang ringan tangan dan tidak segan membantu pihak yang memerlukan pertolongan. Saya masih harus belajar banyak dan berusaha lebih keras," tegas  Ahmad Junaedy Ganie.  ed: irwan kelana

Thursday, 17 July 2014

Istilah mana yang paling tepat? Asuransi Jiwa atau Asuransi Kehidupan?



Istilah mana yang paling tepat? Asuransi Jiwa atau Asuransi Kehidupan?
Oleh  Junaedy Ganie
Masyarakat luas Indonesia mengenal istilah “Asuransi Jiwa” yang jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris menjadi “Life Insurance”, sebagaimana umumnya dipergunakan secara internasional. Tepatkah istilah “Asuransi Jiwa” tersebut? di
Tujuan utama masyarakat atau konsumen asuransi jiwa membeli polis asuransi jiwa adalah untuk memperoleh jaminan kemampuan dalam menjaga atau meningkatkan kualitas  kehidupan ketika polis yang dibelinya jatuh tempo atau jika tertanggung meninggal dunia sebelum tanggal jatuh tempo adalah untuk mewariskan kemampuan mempertahankan gaya hidup kepada keluarga yang ditinggalkan. Dengan demikian, landasan keberadaan polis asuransi tidak sepenuhnya tergantung kepada jiwa tertanggung tetapi lebih luas dari itu, yaitu jaminan kelangsungan perolehan nafkah dan gaya hidup.
Dari aspek pertimbangan promosi dan ketertarikan masyarakat calon pembeli proteksi asuransi jiwa, pendekatan yang mempergunakan istilah “asuransi jiwa” cenderung menimbulkan suatu hambatan psikologis kepada calon nasabah terutama terkait dengan dialog yang membahas tentang kehilangan jiwa. Reaksi calon pembeli akan berbeda sekiranya pendekatan yang dilakukan oleh pemasar asuransi jiwa lebih menitikberatkan kepada aspek upaya untuk meningkatkan kualitas hidup, baik bagi diri sendiri  maupun bagi keluarga. Perubahan tersebut tentu akan berpengaruh positif dalam meningkatkan kesadaran masyarakat Indonesia terhadap pentingnya perlindungan asuransi dan bahwa biaya produk asuransi jiwa tersebut terjangkau oleh masyarakat luas karena industri asuransi memiliki ragam produk yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan kantong masing-masing anggota lapisan masyarakat.
Secara harfiah, terjemahan “asuransi jiwa” sendiri adalah “soul insurance”, bukan “life insurance”. Untuk jenis asuransi yang melindungi harta benda dan kepentingan serta tanggung jawab hukum, istilah “asuransi umum” yang dikenal sekarang masih merupakan istilah yang tergolong baru. Sebelumnya di Indonesia kita mengenal istilah “asuransi kerugian”. Istilah tersebut kadang kala menimbulkan kejanggalan sewaktu diterjemahkan kembali ke dalam Bahasa Inggris (termasuk dalam dokumen resmi atau terjemahan atas ketentuan perundang-undangan atau peraturan tentang perasuransian Republik Indonesia), menjadi “loss insurance” padahal secara internasional  dipergunakan istilah “general insurance”. Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) telah mempelopori dan berhasil melakukan perubahan sehingga istilah “asuransi kerugian” telah ditinggalkan dan menjadi “asuransi umum”. Rasanya Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) dapat melakukan perubahan yang sama.
Apakah istilah yang paling tepat? Saya menyimpulkan bahwa istilah “Asuransi Kehidupan”  adalah istilah yang lebih tepat, lebih luas dan memberi dampak psikologis yang lebih positif. Dalam beberapa forum sebelumnya saya pernah mempergunakan istilah “Asuransi Hidup” tetapi saya kemudian berpendapat bahwa ini bukan istilah yang paling sesuai dan berubah mempergunakan istilah “Asuransi Kehidupan” termasuk pada website di BNI Life dan berbagai kesempatan lainnya walaupun masih secara bersamaan dengan penggunaan istilah “Asuransi Jiwa”. Saat ini terdapat sebuah perusahaan asuransi jiwa di Indonesia yang telah mempergunakan istilah “Asuransi Hidup”, suatu langkah positif dalam mempelopori perubahan.
Semoga pandangan ini dapat menjadi masukan kepada AAJI dan kepada regulator untuk melakukan perubahan dan mempelopori penggunakan istilah yang lebih tepat, yaitu “Asuransi Kehidupan”  untuk “Life Insurance”. Perubahan tersebut dapat diharapkan akan memberikan dampak positif bagi kemajuan industri asuransi Indonesia.
Jakarta, 12 Juli 2014

Tuesday, 8 July 2014

Interview with Bloomberg Businessweek 18 June 2014 - Strategy


Sunday, 29 June 2014

Oleh-oleh dari Bali - Jati diri dan martabat bangsa



Oleh-oleh dari Bali - Jati diri dan martabat bangsa
Oleh Junaedy Ganie
Rasanya hampir selalu ada hal-hal baru yang menarik perhatian saya setiap melakukan kunjungan ke Bali, baik hal-hal atau kejadian yang ringan dan lucu maupun hal-hal yang membangkitkan inspirasi atau semangat yang besar. Saya dan isteri dan anak bungsu kami melalui perjalanan diri yang menarik dalam liburan singkat keluarga menjelang bulan Ramadan 1435 H tahun ini.
Di Jakarta, kami tinggal di perumahan yang memberikan kami kebanggaan akan riuhnya kicauan burung-burung liar di pohon-pohon di sekitar kami terutama ketika fajar menyingsing. Sewaktu kami kembali menginap di sebuah hotel di kawasan Nusa Dua kami menemukan sesuatu yang baru. Mungkin hal ini luput dari perhatian sebagian tamu hotel tapi keberadaan beberapa ekor tupai (anak kami menyebutnya chipmunks, mengikuti karakter komik anak-anak), yang mendekat, berlompatan dan menjuntai dari pohon-pohon sekitar restoran menemani kami sarapan memberikan perasaan berbahagia kepada kami. Sebagian dari tupai-tupai tersebut menjadi begitu jinak sehingga bolak balik memakan biji kacang langsung dari tangan kami. Ada beberapa keluarga lain yang melakukan kegiatan yang sama. Kami semakin terperangah dan menikmati kebersamaan dengan para chipmunks lain yang menunjukan sikap dan keramahan yang sama sewaktu kami menikmati keindahan laut dan pantai pada pagi itu di bangku-bangku tempat berbaring di pantai. Terdapat perkembangan dalam perhatian terhadap lingkungan hidup yang memberikan rasa nyaman dan memperkuat identitas hotel tersebut. Keramahan terhadap lingkungan yang meningkat juga dapat kita temukan di beberapa komplek perumahan dan lapangan golf di Jakarta dan sekitarnya yang telah menjadi habitat yang nyaman bagi sejumlah satwa terutama burung atau jenis dan unggas lainnya, walaupun mungkin masih harus disertai upaya penjagaan yang ketat.
Ketika menikmati sarapan pagi setelah kami pindah menginap di sebuah hotel lain di daerah Jimbaran, kami secara tidak sengaja memperhatikan 3 anak-anak perempuan bule yang mungkin berusia 3 tahun sampai 6 tahun sedang memberi makan ikan-ikan koi yang jinak di kolam. Anak-anak itu tampaknya kakak beradik. Beberapa waktu kemudian, kami memperhatikan ketiganya seperti kebingungan mengatasi sesuatu yang terjadi di kolam. Kami melihat mereka memanggil seorang wanita yang kami yakin adalah ibu mereka untuk membantu tetapi tidak berhasil sehingga dia memanggil suaminya untuk datang agar ikut membantu. Si ayah yang datang tidak berhasil mengatasi masalah yang sedang terjadi di pinggir kolam tersebut sehingga memanggil petugas pembersih kolam yang sedang bekerja untuk meminjam tongkat gagang pembersih lantai yang sedang dipergunakannya. Apa yang kami lihat kemudian? Ternyata si ayah berhasil mengeluarkan sebuah kotak kertas kecil berbentuk segi tiga berwarna putih yang tidak lain adalah kotak makanan ikan yang tadinya dipergunakan salah satu dari ketiga anak-anak tersebut. Kejadian itu mengesankan kami dan melahirkan pertanyaan seberapa banyak keluarga muda Indonesia dari kelas menengah atas akan bersikap sama?
Kejadian tersebut menimbulkan rasa hormat kami yang tinggi kepada keluarga tersebut atas buah dari pendidikan yang diberikan dan dipraktikan dalam keluarga kecil tersebut. Kami menyimpulkan bahwa kesadaran dan sikap bertanggung jawab terhadap lingkungan yang secara tidak sengaja terlihat di depan kami merupakan sebuah refleksi dari proses pendidikan yang membentuk jati diri pada masing-masing individu dalam keluarga tersebut tentang bagaimana mereka bersikap dan cara mereka menempatkan diri.  Rasa hormat kami terhadap sikap mereka menempatkan mereka sebagai pribadi-pribadi yang bermartabat  dan secara langsung juga mengangkat harkat mereka sebagai anggota bangsa yang bermartabat tinggi. Mudah-mudahan upaya berbagi pengalaman dan pandangan ini dapat pula menimbulkan hasrat untuk bersama-sama membangun lingkungan dan saling mengingatkan melalui pembentukan jati diri dan meningkatkan martabat bangsa Indonesia. Apalagi, ada kalanya kita masih menemukan pemandangan sampah yang dilemparkan ke jalan raya dari mobil-mobil yang melintas di depan kita, termasuk di Jalan Sudirman dan M.H. Thamrin!
Pencarian dan pembentukan jati diri sejak dini dan sejak dari lingkungan terkecil, yaitu keluarga masing-masing, sehingga kita menemukan identitas bangsa yang kuat  yang akan menjadi modal penting dalam meningkatkan martabat bangsa Indonesia. Identitas tersebut akan berperan penting dalam menggapai kemajuan Indonesia yang beretika dan terhormat. Indonesia yang memiliki budaya, sejarah masa lalu yang membanggakan, memiliki bukti-bukti sejarah yang agung yang sayangnya masih belum dapat memberikan nilai tambah setinggi tingkat keberhasilan negara-negara tetangga yang memiliki budaya, sejarah dan warisan keagungan yang lebih sedikit, walaupun terus membaik.
Pilihan saya atas tayangan film singkat Dewa Ruci dalam penerbangan Garuda pulang ke Jakarta yang  menceritakan tempaan yang  dilalui para pelaut Indonesia dalam mencari jati diri dan membangun identitas bangsa di atas kapal layar yang memiliki sejarah yang membanggakan, telah memberi inspirasi pada banyak orang dan telah mengelilingi dunia sebanyak 2 kali serta menjadi satu-satunya wakil Asia dalam OpSail di Amerika Serikat pada tahun 2012. Sebuah lagi bukti bahwa kita bisa !
Niat berbagi tentang pentingnya jati diri dan identitas bangsa dan nilai-nilai untuk menjunjung martabat bangsa ini juga didorong oleh celotehan Made, supir mobil sewaan yang kami pergunakan dalam satu perjalanan liburan tersebut, “Pak, kalau dulu, yang ada adalah karma pala, Kita bekerja baru kemudian memperoleh hasilnya, sekarang pala karma. Dulu air hujan jatuh ke jalan lalu mengalir ke got, sekarang hujan mengalir dari got ke jalan. Dulu pejuang masuk penjara dan baru menjadi pejabat selepas dari penjara. Sekarang, banyak yang memegang jabatan tinggi dulu, lalu masuk penjara !”.
Jakarta, 29 Juni 2014, Puasa hari pertama, 1 Ramadan 1435H