Monday, 20 October 2014

Sosok dan Kenangan - Pak Jun di mata kami

Terima kasih

Pada 13 Oktober 2014 saya menerima sebuah buku dengan judul “Sosok dan Kenangan - Pak Jun di mata kami” yang ditulis oleh sejumlah karyawan BNI Life. Agak deg-deg an juga membukanya karena sebagai seorang yang memimpin dengan berlandaskan semangat perubahan, saya tidak mungkin menyenangkan semua orang dan tanpa sikap yang tegas. Apalagi, transformasi BNI Life tidak luput dari berbagai tantangan dan hambatan.


Sejumlah karyawan BNI Life telah berkenan menorehkan tulisan tangan mereka mengungkapkan kesan tentang saya selama masa kepemimpinan saya dari 20 September 2011 sampai dengan 30 September 2014. Isi tulisan-tulisan tersebut mengandung makna yang sangat berarti, menarik dan sebagian lainnya membuat tersenyum. Saya sangat senang dan terharu sekaligus tersanjung membaca doa, ungkapan perasaan, pandangan, sharing yang dimuat dalam buku tersebut. Saya yakin isinya bukannya hanya bermanfaat dan menjadi inspirasi tambahan bagi saya dan keluarga tetapi dapat pula berguna bagi orang lain sehingga saya berharap suatu hari nanti saya dapat berbagi isinya dalam bentuk yang tepat.


Saya sangat menghargai dan berterima kasih atas buku tersebut. Selain itu, saya juga menerima dalam berbagai bentuk lain beragam ungkapan yang semuanya memberikan kebanggaan dan kebahagiaan kepada saya dan keluarga saya yang telah menjadi bagian dari BNI Life selama 3 tahun, baik dari karyawan maupun dari mitra bisnis, diantaranya dalam bentuk CD, koleksi foto, souvenir dan termasuk puisi yang telah saya muat dalam Blog ini sebelumnya yaitu Pak Jun dan True Leader.
Saya akan selalu menyimpan kenangan masa di BNI Life dengan kebanggaan dan kedekatan yang mendalam. I shall treasure the term I had in BNI Life.
 

Sebagai penutup, saya mengutip sebuah ungkapan dari buku tersebut yang dimuat seorang karyawan BNI Life, “For a voyage to begin, another voyage must come to an end”.
Jakarta, 20 Oktober 2014
Junaedy Ganie
 
 





 

Tuesday, 7 October 2014

How good is the service of domestic airlines?



How good is the service of domestic airlines?
By Junaedy Ganie

While we continue to hear some problems including some financial difficulties faced by certain domestic airlines, I would like to share a good comparison that I would take as good news.
On 6th August 2014, following a family holiday in Europe, while our children would take an evening flight back to Jakarta on the same day from one of the major cities in  Europe, my wife and I transferred to board  a morning flight to catch up with our colleagues who would be on a transit from Indonesia. We were to join them to spend another week in Europe for their well-deserved Summit Convention trip reward. Unfortunately, a few minutes after sitting comfortably in the aircraft, we were informed by the captain to alight from the aircraft due to some technical problems in the plane. It could happen to any aircraft anywhere. No complaint. It was then as we were waiting for a substitute aircraft we started to feel that something was missing. We could not get a clear answer as to how long we had to wait, let alone receiving an announcement from the airline officer even after we were already queuing in front of the gate. Many of the passengers eventually rested on the floor caused by the tiredness mainly from the uncertainty. It took almost 5 hours before we were finally asked to board the aircraft and was told that it would be a free seating flight. During the waiting, there were no drinks or meals offered to the passengers, a treatment we take for granted as standard service by any domestic airline in Indonesia.
To my surprise, as we were proceeding into the aircraft, an officer at the gate asked me, “Do you know that there is no business class in this flight?”, under such circumstances,  such a question in Indonesia would definitely raise both eye brows. I immediately responded, “How would I know. Nobody told me”. He simply added, “There is no business class in this flight”. On the plane, we were served with a piece of bread and a tiny plastic can of water. I asked the stewardess if we could get something better as it passed lunch time already and I informed her that we were not served with anything during the long wait. She sounded surprised that we were not served with anything and was sorry for not having anything better to offer. By the way, we have not heard from  our travel agent what happen to the compensation for the portion of the flight we had to fly at lower class.
          I could imagine how a 5-hour delay without proper announcement and with neither drinks nor meals being served at a domestic terminal in Indonesia could spark a small riot around the airlines’ counter. Does it mean that we have raised a higher awareness of our rights for services while Europeans or international travelers no longer expect such services? From which angle shall we look it at? I would prefer to believe it being the first instead of the latter. Would it be a reflection of an increased sense of awareness on the part of the domestic airline service providers? Or, are we Indonesians demanding too much? While delays might still haunt us in domestic air travel but to a certain extent delays could have been caused more by the crowded airports serving far beyond their designed capacity – an indication of economic growth and increasing income per capita yet carrying higher risks that would require strong political will from the authority to align the business strategy, growth potential and infrastructure development and hence reduces the problem to a minimum.
        On arrival at the destination, we learned from our children who took the evening flight to Jakarta from the same city on the day we experienced the delay that they could not claim their tax refund. Apparently due to presence of an unattended luggage at the Tax Refund area, the area would have to be immediately secured causing our children to forego the tax refund claim as they had to catch their flight back to Jakarta. Things happened and we had to appreciate that security measures should come first.
         On our flight back to Jakarta a week later, we had a smooth check in and it was a nice flight with attentive and polite crew. Unfortunately, however, on arrival at the Jakarta airport, one of our luggages did not turn up until 3 days later albeit it was categorized as a priority item.
        Lessons learned, I think the claim that our domestic flights including their regional and international routes have surfaced above some of the more well-known airlines in terms of services does prove the weight of the improved domestic airlines’ services. I think the World’s Best Cabin Crew awarded to Garuda Indonesia by Skytrax, having been awarded a number of other awards from the same institution, is indeed the reflection of the reputation of services Garuda deserves not to mention on board immigration check in some routes and the priority baggage counter services.  
Jakarta, 7 October 2014
                                                                                                                            

Sunday, 5 October 2014

Kenyamanan musholah di tempat umum



Oleh Junaedy Ganie
Di tengah konflik di kancah politik nasional akhir-akhir ini yang mendapat beragam tanggapan masyarakat dan terlepas dari berbagai pandangan terhadap dampaknya bagi kesejahteraan bangsa, terinspirasi gema takbir yang berkumandang dalam suasana Idul Adha 1435 H, saya mencoba mengajak untuk memperhatikan hal-hal yang menarik dan menunjukan adanya perbaikan yang berkelanjutan dalam aspek kehidupan bangsa Indonesia.
Saya yakin sebagian besar masyarakat pengunjung mall di Jakarta dan kota-kota besar lainnya memperhatikan betapa besarnya perubahan pada fasilitas ibadah yang disediakan oleh pengelola gedung dewasa ini. Sebelumnya, secara umum, ruangan tempat ibadah yang disediakan sempit, gelap dan mungkin juga berdebu. Untuk di Jakarta, sepengetahuan saya Pasaraya yang menjadi pelopor penyediaan musholah yang luas dan bersih sebelum diikuti oleh sejumlah pusat perbelanjaan modern lainnya. Saat ini, Pasaraya telah melangkah lebih jauh meninggalkan pesaingnya dengan menggantikan musholah menjadi sebuah masjid yang luas dan megah di salah satu lantai pusat perbelanjaan tersebut. Tersedianya fasilitas ibadah yang nyaman bagi pengunjung tentu juga menimbulkan rasa nyaman bagi pengunjung dan menjadikan keberadaan faslitas ibadah yang nyaman sebagai salah satu pertimbangan pilihan mall yang akan dikunjungi. Saya yakin keberadaan musholah yang nyaman ikut meningkatkan jumlah pengunjung.
Saya masih ingat ketika dulu terdapat hotel-hotel mewah yang menyediakan musholah di tempat yang sempit atau jauh ke dalam atau ke bawah gedung. Bahkan saya ingat ketika harus sholat di ruang kecil di bawah tangga pada sebuah hotel bintang lima. Atau, adanya petugas hotel yang mengarahkan penggunaan ruang fasilitas klub pada hotel tersebut untuk memudahkan tamu menegakan sholat karena fasilitas untuk umum yang tersedia tidak nyaman. Saya juga pernah merasakan lantai musholah yang bergetar terus sepanjang sholat. Ternyata, musholah di hotel bintang lima tersebut persis terletak di atas ruang generating set (generator). Namun, hal tersebut pada sejumlah hotel telah menjadi sejarah karena sebagian besar pengelola hotel telah menyediakan musholah yang memadai. Bahkan, jika tidak tersedia ruangan yang cukup, hotel mengkonversi beberapa unit kamar hotel menjadi musholah permanen.
Apakah perkembangan tersebut merupakan buah dari pemahaman petugas pemberi ijin pendirian gedung yang semakin baik sehingga mempersyaratan musholah yang nyaman atau semata-mata karena meningkatnya kesadaran pengelola gedung tentang manfaat musholah dalam meningkatkan kunjungan tamu, membangun karakter bangsa menjadi warganegara yang baik atau buah dari kombinasi antar keduanya?
Perkembangan yang ada menunjukan tren yang bagus dan berperan dalam meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menegakan sholat atau mengurangi alasan untuk tidak sholat atau menunda sholat. Namun, masih terdapat beberapa tempat yang belum berubah dan perlu mendapat perhatian. Pada beberapa pusat perbelanjaan dan hotel, terutama pada gedung yang tergolong tua, tamu-tamu masih memerlukan perjuangan berat untuk mencapai lokasi musholah yang umumnya di basement atau di area parkir, jauh dan terpencil. Terdapat pula, musholah bahkan masjid yang bagus, bersih dan luas tetapi, sayangnya, terletak di lokasi yang sulit untuk dicapai. Bahkan lokasinya begitu sulit untuk diingat, terutama karena tidak adanya petunjuk arah yang jelas. Menyadari kesulitan yang akan dihadapi tamu-tamu yang datang yang mungkin bisa tersesat, petugas-petugas gedung yang saya maksud umumnya berbaik hati menawarkan mengantarkan tamu sampai ke tikungan tertentu.
Selanjutnya, dalam beberapa kunjungan saya ke daerah, baik ibukota provinsi maupun tingkat kabupaten atau kotamadya, baik di Indonesia Bagian Barat maupun di Indonesia Bagian Tengah, beberapa hotel, apalagi pada resort yang kecil, tidak menyediakan petunjuk arah kiblat di kamar hotel. Akibatnya, tamu harus menghubungi front office untuk memperoleh informasi. Hal ini tentu menimbulkan kesan yang kurang baik bagi hotel tersebut. Tidak semua tamu memiliki perangkat lunak petunjuk arah kiblat di telepon genggam mereka. Saya yakin, pemerintah daerah dapat berperan dalam meningkatkan kesadaran atau tanggung jawab pengelola untuk memenuhi kebutuhan masyarakat terhadap petunjuk arah kiblat tersebut. Ketentuan tersebut, sekiranya belum ada atau belum tegas, sejogyanya dijadikan suatu ketentuan baku sejak tarap proses perijinan dan dijadikan salah satu faktor penting yang perlu diawasi ketika petugas melakukan pengawasan ke lapangan.
Akan menarik juga mengetahui temuan jika diteliti tentang seberapa banyak restoran besar, supermarket, pusat kebugaran yang telah menyediakan musholah yang pantas. Mungkin masih banyak yang bahkan untuk karyawannya sendiri tidak tersedia fasilitas tempat ibadah yang memadai.
 Hukumdapat ditempatkan di depan untuk menjadi pedoman dan alat pengawasan yang efektif. Alangkah baiknya jika lembaga pemeringkat juga menjadikan fasilitas atau petunjuk sejenis sebagai bahan pertimbangan. Semuanya akan memberikan manfaat bagi pembangunan manusia Indonesia menjadi warga negara yang membanggakan.
Jakarta, 5 Oktober 2014, diantara kumandang takbir Idul Adha 1435 H.

Wednesday, 1 October 2014

True Leader - Leading the transformation at BNI Life September 2011 - September 2014




True Leader
True leader has the confidence to stand alone, the courage to make tough decision and the compassion to listen to the needs of others. 
He does not set out to be a leader but becomes one by the quality of his actions and the integrity of his intent.
In the end, leaders are much like eagle...
They do not flock;
You find them one at a time.
                                                30 September 2014
                                                The Sharia Team members

Pak Jun - Leading the tranformation at BNI Life September 2011 - September 2014



Pak Jun
              Hadir saat BNI Life diterpa gelombang
Dengan sepak terjang yang membuat tercengang...
Tak jarang hadir perlawanan menghadang...
Tak sedikit kekecewaan muncul menghalang...
Tapi bukti nyata menjadi  saksi...
Kinerja perusahaan terus mendaki...
Reputasi BNI Life makin diakui...
Wajah-wajah ceria di tengah kerja,
terutama saat musim bonus tiba.
Dibalik keseriusan dan ketegasannya...
Dia adalah sosok yang telah berjasa...
Membuat BNI Life semakin berjaya.
                                           20 September 2014
                                           Corporate Communications Team Member

Sunday, 24 August 2014

Article in BANI Newsletters: Efektifitas Klausul Arbitrase Dalam Meningkatkan Kualitas Perjanjian Asuransi