Friday, 3 July 2015

Rencana pengenaan pajak progresif atas kepemilikan kendaraan bermotor atas dasar domisii. Kebijakan yang kebablasan? - Public Policy


Rencana pengenaan pajak progresif atas kepemilikan kendaraan bermotor kebijakan yang kebablasan?

Oleh; Dr Junaedy Ganie

 Dengan alasan untuk mengurangi minat terhadap kepemilikan kendaraan bermotor, pemerintah menerapkan pajak progresif atas kendaraan kedua dan seterusnya yang bertingkat menjadi lebih besar. Ketentuan ini telah diterima sebagai norma yamg berlaku. Dengan disinsentif pajak tersebut pemerintah mengharapkan masyarakat akan memilih untuk mempergunakan kendaran umum, bukan membeli mobil baru. Ketentuan tersebut sampai batas tertentu dapat dimengerti namun sejauh mana keterbukaan pemerintah tentang besaran dana yang terkumpul dikembalikan ke masyarakat dalam bentuk fasilitas angkutan umum yang lebih banyak dan lebih baik. Jika sarana angkutan umum mencukupi, nyaman dan aman sebagian besar lapisan masyarakat tentu akan memilih kendaraan umum. Nanti bisa dibuktikan setelah MRT dan LRT beroperasi.Pada awal kehadiran TransJakarta (yang entah bagaiama dulu lebih dikenal dengan  nama Bus Way) saya pribadi dan beberapa rekan sering memilih naik TransJakarta untuk menghadiri kelas pendidikan jam 5 sore di daerah 3 in 1 dan meminta supir menyusul setelah jam 7 malam karena TransJakarta masih nyaman, memiliki frekuensi kedatangan yang cepat dan semua “kebagian” tempat duduk.  Seiring dengan meningkatnya daya beli masyarakat, TransJakarta telah menjadi kebutuhan pokok yang lebih tinggi dari ketersediaannya.

Selanjutnya, belum lama ini saya mendengar adanya rencana pemerintah untuk mengenakan pajak progresif atas dasar kepemilikan kendaraan bermotor berdasarkan domisili nama pemilik kendaraan. Akibatnya, apabila kelak diterapkan maka beban pajak bagi mobil anak dan keluarga yang masih tinggal bersama orang tua akan sangat membebani masyarakat padahal kita mengetahui terdapat sejumlah anggota masyarakat yang menumpang karena belum mampu memiliki rumah sendiri dan memiliki kendaraan bukan untuk kemewahan tetapi untuk efisiensi dan kelancaran mobilitas karena sarana angkutan umum yang tidak memadai. Entah apa penyebabnya selama ini sebab dari apa yang kita sering kita dengar dari Gubernur Ahok, dapat kita simpulkan bahwa pemerintah DKI itu sebenarnya kaya dan mampu membeli dan terbukti sekarang mulai mengejar ketinggalannya.

Terlepas dari pro dan kontra bahwa ketika  perekonomian sedang sulit, kebijakan perpajakan harus dibuat lebih rilek untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan investasi, timbul pertanyaan apakah pejabat yang merencanakan pengenaan pajak progresif atas dasar domisili tersebut masih dianggap normal atau tidak. Pandangan  yang muncul adalah bahwa pemerintah lebih memilih memperbesar pendapatan pajak dari masyarakat yang taat pajak. Sementara itu, di saat pencapaian target pajak yang tertinggal dari target, dari semua lapisan potensi Wajib Pajak, rasio kepemilikan NPWP masih kecil dan dari pemilik NPWP tersebut, jumlah yang menyerahkan SPT juga masih kecil. Semoga aparatur negara kita dapat melakukan inovasi dan menemukan pemikiran yang lebih kreatif dan efektif dalam meningkatkan pendapatan pajak. Bukan hanya sekedar mengambil jalan pintas dan melupakan dampak dan tanggung jawab sendiri serta  lupa bahwa dengan sarana angkutan umum yang baik, masyarakat secara otomatis akan memanfaatkannya.

Mari kita dukung dan menunggu bukti efektifitas dan buah dari peningkatan remunerasi bagi pegawai kantor pajak terhadap peningkatan pendapatan pajak dengan cara yang sehat.

 

Jakarta, 3 Juli 2015 / 16 Ramadan 1436 H

Peregeseran Pola Pikir dan Budaya Bangsa - Pembangunan Karakter Bangsa


PERGESERAN POLA PIKIR DAN BUDAYA BANGSA

 

Dr. Junaedy Ganie

Selama puluhan tahun saya merasa beruntung berdiam di suatu lingkungan  tempat tinggal yang para penghuninya saling perduli dan mengenal satu sama lain dengan baik dan memiliki begitu banyak kegiatan bersama yang memfasilitasi terciptanya lingkungan yang saling mengenal dengan baik, mulai dari kegiatan olahraga, sosial budaya dan agama serta kegiatan remaja. Bahkan acap kami merasa lebih baik memilih merayakan acara Tahun Baru di lingkungan tempat tinggal karena memiliki acara yang meriah sampai pagi. Tapi itu cerita dulu, tuntutan kehidupan dan pergeseran prioritas membuat perubahan sehingga secara bertahap tanpa terasa kehidupan di lingkungan kami yang memiliki alam hijau dan berbukit juga berubah. Ada yang hilang yang perlu diraih kembali.

Jauh sebelum menginjakan kaki di Jakarta lebih dari tiga dasa warsa lalu lalu, saya sering mendengar pameo ‘lu-lu, gue-gue” yang dicamkan sebagai budaya orang Jakarta. Bagian dari pemahaman tersebut diartikan bahwa orang yang tinggal di Jakarta tidak akan saling perdulikan dan bahkan jika pendatang atau seseorang menanyakan sebuah alamat, jangan harap orang Jakarta akan mau memberitahu walaupun mungkin mereka mengetahuinya dan bahkan alamat yang ditanyakan sangat dekat dari tempat bertanya. Harus begitu bersikap, kalau mau jadi orang Jakarta. Mungkin begitu yang ada di pikiran sekelompok pendatang. Berbeda halnya dengan pameo yang saya dengar begitu tiba di Australia dalam kurun waktu yang tidak jauh berbeda bahwa seorang Aborigin akan dengan mudah membantu menujukan arah walaupun dengan sikap yang khas, misalnya: “Dari sini lurus dan belok kanan pada belokan kedua nanti. Disana bertanyalah kepada orang pertama yang anda temui”. Saya kira ini sudah menjadi cerita usang tetapi ada yang mengatakan bahwa jika didalami, sikap tersebut merupakan refleksi dari sikap “berpamitan” yang merupakan suatu bentuk kearifan lokal yang memberikan arti yang lain dan dapat menjadi bahan diskusi yang lain lagi.  

Setelah menetap di Jakarta, pandangan tersebut perlahan berubah karena penduduk Jakarta tidak semuanya demikian sifatnya. Gambaran tersebut merupakan suatu refleksi kecil dari pengalaman segelintir orang yang berkembang mempengaruhi pandangan masyarakat yang lebih luas. Akibatnya pendatang baru yang menetap di Jakarta yang datang dengan pemahaman yang keliru tersebut menerapkan sikap yang sama begitu tiba di Jakarta, sesuatu yang terus berkembang padahal bukan begitu sikap umumnya. Namun pada lingkungan dengan pendidikan yan baik terdapat sikap yang berbeda yang menjadikan mereka kelas masyarakat yang lebih terbuka, lebih bersahabat dan lebih bersedia membantu. Sebagai perbandingan, di kota besar seperti London, Tokyo (walaupun memiliki hambatan bahasa)  atau daerah-daerah yang warganya  sadar tentang pentingnya pariwisata bagi perekonomian negaranya atau bangga tentang tingkat adab dan budaya mereka, permintaan petunjuk arah jalan akan dilayani dengan baik.

Pengalaman saya sekitar 6 minggu lalu menggelitik saya untuk mencoba mendalami lebih jauh dan menjadikannya bahan diskusi ringan untuk memperoleh pandangan dari beberapa orang lain yang saya kenal walaupun belum dapat dijadikan suatu refleksi hasil riset yang mendalam.

Ketika itu, setelah bertanya bolak balik pada beberapa orang untuk mencari sebuah alamat, kami yang datang dari arah yang berbeda dan dengan kendaraan yang berbeda mengalami pengalaman yang sama, yaitu kesulitan menemukan alamat suatu perusahaan besar di jalan yang besar pula di daerah Jakarta Utara. Entah bagaimana, alat bantu navigasi di kendaraan kami juga tidak berhasil membantu banyak karena menuntun kami memasuki pilihan jalan yang tidak kami kehendaki karena kondisinya yang jelek atau kotor. Semua orang  yang ditanya supir saya tidak berhasil memberi arah yang menuntun kami ke tempat tujuan dan membuat kami harus membuang banyak waktu karena harus berputar-putar dengan tidak jelas sehingga saya akhirnya memutuskan untuk turun dan bertanya langsung kepada seseorang di depan sebuah pabrik, seseorang yang belakangan saya ketahui bekerja di pabrik tersebut. Ternyata jangankan untuk mengetahui lokasi jalan/alamat yang saya hendak tuju, pekerja tersebut bahkan tidak tahu nama jalan tempat pabrik tempatnya bekerja! Katanya dia hanya mengenal nama Blok saja dan tidak tahu nama jalannya. Rasa panasaran terhadap sikap tersebut membuat saya memasuki gedung pabrik tersebut dan bertanya langsung kepada sekitar 8 – 10 orang yang sedang berkumpul di dalam. Ternyata mereka juga tidak dapat memastikan nama jalan di depan tempat mereka bekerja dan tidak sepakat dengan nomor Blok lokasi pabrik mereka. Sebagian mengatakan Blok C dan ada yang mengatakan Blok G. Dari pengejaran melalui pertanyaan-pertanyaan, saya dapat membaca situasi dan sikap masing-masing sehingga menilai yang mengatakan Blok G tampak lebih dapat diandalkan jawabannya dan dari seseorang diantara mereka tersebut saya berhasil mengetahui bahwa untuk sampai ke alamat yang hendak saya tuju saya hanya perlu keluar dari gedung pabrik mereka ke arah kanan dan langsung belok kanan sekitar 50 meter kemudian dan adalah bangunan ketiga setelah belokan tersebut, sama-sama di Blok G.

Ternyata keadaan tersebut tidak berdiri sendiri. Seorang kolega mengatakan dia melakukan pengujian tunggal setelah mendengar pengalaman saya dan dia sangat terkejut mengetahui bahwa supirnya yang telah bekerja 3 bulan padanya tidak mengetahui nama jalan di samping rumahnya yang menjadi lokasinya tempatnya mencuci mobil setiap pagi! Tidak mengetahui alamat yang ditanyakan adalah sesuatu yang dapat dimaklumi tetapi tidak mengetahui nama jalan tempat mencari nafkah menimbulkan tanda tanya besar tentang keganjilan pada pola pikir dan budaya sekelompok masyarakat.

Pengalaman tersebut dan beberapa diskusi yang saya alami membawa saya pada suatu kesimpulan yang mungkin menarik untuk diuji oleh peminat atau ahli perilaku perubahan budaya masyarakat dan dampaknya tentang apakah tingkat kesulitan perekonomian dan tekanan kehidupan sehari-hari menciptakan suatu kelas masyarakat yang hanya berpikir singkat seperti yang dikemukakan buruh-buruh pabrik yang saya ceritakan di atas: “Yang penting saya tahu bagaimana bisa sampai ke tempat saya bekerja”. Atau seperti jawaban si supir, “Kita kan sudah sibuk dengan urusan masing-masing dan saya yakin supir-supir lain di sekitar juga seperti saya” walaupun dia memiliki begitu banyak waktu kosong yang tersedia sewaktu menunggu tugas mengantar majikannya.

Dapat dibayangkan betapa beratnya tantangan pembangunan masyarakat Indonesia jika gambaran di atas merupakan indikasi pola pikir dan budaya yang berkembang di kalangan bawah. Hal ini juga berarti betapa pentingnya penerapan program Revolusi Mental yang dicanangkan Presiden Jokowi dalam janji kampanyenya dulu.

Jakarta, 3 Juli 2015/16 Ramadan 1436 H

 

 

 

 

Friday, 26 June 2015

Klaim Asuransi Adalah Utang - Hukum Bisnis / Asuransi


 
’Klaim Asuransi Adalah Utang’

JAKARTA, Bisnis Indonesia,  23 Juni 2015 — Belum lama ini, permohonan pailit yang diajukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terhadap PT Bumi Asih Jaya ditolak Pengadilan Niaga Jakarta Pusat. Majelis hakim menilai permohonan kasasi yang diajukan oleh perusahaan asuransi jiwa tersebut di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) membuat utang dalam perkara ini menjadi tidak sederhana. Padahal, utang adalah syarat dari kepailitan. Seperti apa sebenarnya definisi utang dalam perusahaan asuransi?

Berikut petikan wawancara Bisnis dengan Junaedy Ganie, lulusan S3 Hukum Bisnis Universitas Padjajaran yang lama bergelut di industri asuransi.

Apakah sebenarnya definisi utang?

Secara sederhana, pengertian utang adalah kewajiban yang sudah atau akan jatuh tempo untuk mengembalikan kewajiban dalam bentuk uang atau dapat dinilai dengan uang kepada pihak lain yang timbul akibat suatu perjanjian atau ketentuan perundang-undangan. Lebih jauh dapat dilihat pada pasal 1 ayat 6 UU No. 37/2004 Tentang Kepailitan dan PKPU.

Dalam bisnis asuransi, apa saja yang tergolong dalam utang?
Berrbagai kewajiban yang tergolong dalam pengertian utang tadi. Sebagai perusahaan yang bergerak dalam pengumpulan dana masyarakat dalam bentuk premi yang menimbulkan kewajiban kepada pihak lainya, selain dari utang yang lazim terjadi pada berbagai bentuk usaha lainnya, yang paling menonjol pada bisnis asuransi adalah adanya utang klaim, utang pengembalian premi ke nasabah, utang premi reasuransi dan utang komisi.


Apakah klaim asuransi yang belum dibayarkan adalah utang?

Ya, klaim yang belum dibayarkan adalah utang. Perusahaan asuransi melakukan pengakuan kewajiban dengan melakukan pencatatan atas kewajiban tersebut pada pembukuan perusahaan asuransi atau mengakui adanya kewajiban dalam bentuk penyediaan cadangan teknis. Bahkan, perusahaan asuransi umum sudah mulai mencatatkan cadangan klaim sewaktu timbul klaim walaupun jumlahnya masih berdasarkan perkiraan saja sampai diketahui jumlah yang sebenarnya dan masih tergantung pada keabsahan klaim yang timbul.
 
Apakah perusahaan asuransi bisa dipailitkan karena banyaknya klaim jatuh tempo yang belum dibayarkan?

Bisa dipailitkan berdasarkan prosedur yang berlaku dan oleh pihak yang memiliki kewenangan untuk melakukan upaya tersebut karena klaim yang sudah jatuh tempo tetapi belum dibayarkan adalah utang.

Apakah perusahaan asuransi yang belum dicabut izinnya bisa dipailitkan?

Dapat dipailitkan jika syarat-syaratnya terpenuhi.

Apakah perusahaan asuransi yang sudah dicabut izinnya, lalu ia mengajukan kasasi ke MA atas pencabutan izin itu juga bisa dipailitkan?

Secara umum, suatu izin usaha adalah persyaratan yang harus dipenuhi oleh sebuah perusahaan untuk menjalankan bisnis sesuai bidang usahanya. Perusahaan yang telah dicabut izinnya tetap berdiri sebagai badan hukum sehingga upaya pemailitan atas perusahaan dalam kondisi tersebut dapat saja dilakukan oleh kreditur yang berhak.

Pada perusahaan asuransi terdapat kekhususan karena upaya pemailitan hanya dapat dilakukan oleh otoritas, bukan secara langsung oleh masing-masing kreditur. Saya tidak melihat larangan upaya mempailitkan perusahaan asuransi yang sudah dicabut izinnya karena secara badan hukum perusahaan masih berdiri.

Pewawancara: Wan Ulfa N.Z.

Akuisisi Makin Menjadi-jadi - Asuransi






Akuisisi Makin Menjadi-jadi

JAKARTA, Bisnis Indonesia, 23 Juni 2015 _ Meski literasi keuangan masyarakat Indonesia tercatat minim, pertumbuhan industri perasuransian diyakini bakal signifikan. Salah satunya melalui aksi akuisisi sejumlah pemain besar.

 
Amanda Kusuma Wardhani


 
Akuisisi dinilai masih menjadi pilihan menarik bagi sejumlah perusahaan asuransi besar yang berniat masuk ke Indonesia. Seperti diketahui, sejumlah asuransi lokal telah menjalin kesepakatan bisnis dengan beberapa perusahaan multinasional, misalnya perusahaan asuransi asal Malaysia, Tune Insurance Holding Bhd dengan PT Asuransi Staco Mandiri, dan PT Asuransi Parolamas yang telah diakuisi Insurance Asustalia Group.

Beberapa perusahaan asuransi tersebut me mang mengalami kesulitan modal sehingga akuisisi menjadi pilihan bagi para pemegang sahamnya. Namun, aksi akuisisi tidak hanya dilakukan untuk mencari tambahan modal saja, tetapi juga strategi investor terkait untuk berekspansi.

PT Astra Aviva Life (Astra Life), dan PT Fairfax Insurance Indonesia (Fairfax Indonesia) tercatat telah melakukan aksi korporasi pada tahun lalu.

Aviva International Holding Limited membeli saham PT Astra International Tbk. dengan porsi hingga 50%, sedangkan Fairfax Financial Holdings Limited (Fairfax Financial) mengakuisisi saham yang sebelumnya dimiliki PT Batavia Mitratama Insurance hingga 80%.

“Memang lebih baik memilih jalan akuisisi jika mereka [perusahaan asing] ingin menjajal pasar Indonesia.

Setidaknya, me reka tidak perlu mulai dari nol,” kata pengamat asuransi yang juga menjabat Komisaris Independen

Allianz Indonesia, Junaedy Ganie kepada Bisnis belum lama ini.

Dia menilai para pemain besar itu memiliki keunggulan lebih lantaran kapasitas permodalan yang kuat, pengalaman di sektor asuransi, dan teknologi yang mumpuni.

Merger dan akuisisi tidak melulu dilakukan investor asing, tetapi juga dalam negeri. Sejumlah bank belakangan berencana menggelar usaha patungan dengan perusahaan asuransi, sedangkan lainnya mempertimbangkan untuk mengakuisisi perusahaan asuransi yang sudah ada.

PT Bank Tabungan Negara Tbk. (BTN) dan PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo) dikabarkan bakal membentuk usaha pa tungan asuransi jiwa. Kendati demikian, belum ada keterangan resmi terkait waktu pembentukan asuransi jiwa itu. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. (BRI) sebelumnya juga telah ancang-ancang untuk mengakuisi salah satu perusahaan asuransi jiwa, meski belum ada realisasi hingga kini. Junaedy mengungkapkan, opsi akuisisi masih menjadi pilihan utama bagi perusahaan asuransi untuk menambah modal dan melakukan transfer ilmu.

Tentu saja selain akuisisi, perusahaan asuransi juga dapat berekspansi dan menambah permodalan dengan mencatatkan perusahaannya di pasar modal alias initial public offering (IPO).

 

LISTING

Hingga kini, baru 10 perusahaan asuransi yang telah mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia dan kesemuanya merupakan perusahaan asuransi umum. “Wajar saja jika appetite perusahaan asuransi belum memandang listing sebagai salah satu peluang bisnis karena investornya saja juga belum menilai sector asuransi sebagai pilihan yang menarik,” kata Wiyono Sutioso, Wakil Presiden Direktur PT Asuransi Allianz Utama Indonesia.

Menurutnya, sektor asuransi masih dipandang sebagai sektor yang rapuh terhadap kondisi perekonomian nasional, terutama asuransi umum. Adapun asuransi jiwa, katanya, kebanyakan telah memiliki kapasitas permodalan yang kuat sehingga opsi listing tidak menjadi prioritas.

“Indonesia hanya butuh waktu dan contoh saja. Ketika nanti sudah ada satu perusahaan asuransi jiwa saja yang listing di bursa saham, saya yakin semua akan mengikuti,” katanya.

 


 

Reguler Premium Terus Dipacu - Asuransi



Premi Reguler Terus Dipacu
 
JAKARTA, Bisnis Indonesia, 19 Juni 2015 — Pelaku industri asuransi jiwa diyakini bakal terus memangkas premi tunggal demi mengejar sumber dana jangka panjang.
 
Amanda Kusuma Wardhani
amanda.kusumawardhani@bisnis.com
Pasalnya, secara nominal, premi tunggal lebih besar ketimbang premi reguler, tetapi premi tunggal tidak mendukung skema berkelanjutan yang biasanya dianut industri asuransi jiwa.
“Untuk pemain baru, biasanya mereka lebih banyak bergantung kepada premi tunggal karena belum banyak premi reguler yang masuk. Tetapi, dengan berjalannya waktu, mereka harus segera beralih untuk menggenjot premi reguler,” kata Junaedy Ganie, pengamat asuransi yang juga menjabat Komisaris Independen Allianz Indonesia kepada Bisnis belum lama ini.
Berdasarkan data Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI), sepanjang Januari-Maret 2015 total premi tunggal tercatat Rp12,87 triliun, sedangkan premi reguler Rp20,08 triliun.
PT Equity Life Indonesia juga berencana untuk mengurangi kontribusi premi tunggal, dan beralih memacu kinerja premi reguler. Samuel Setiawan, Presiden Direktur PT Equity Life Indonesia (Equity Life), mengatakan dominasi premi tunggal di perusahaannya akan membuat skema keberlanjutan tidak  berkembang.
“Memang besar itu [premi tunggal]. Tapi, itu tidak sesuai dengan visi dan misi perusahaan kami. Dulu, karena baru, makanya kami ingin genjot premi tunggal,” katanya. Menurutnya, Equity Life sedang
melakukan berbagai upaya untuk terus meningkatkan kontribusi premi reguler, salah satunya melalui
berbagai kerja sama dengan supermarket atau minimarket.
Pada tahun depan, Equity Life juga berambisi untuk memacu jumlah nasabahnya melalui kanal distribusi alternatif yakni perusahaan ritel. “Pada tahun lalu, jumlah nasabah kami mencapai 3 juta. Jadi, saya kira, kerja sama dengan menggaet perusahaan ritel seperti Lotte Mart sangat signifikan untuk menambah jumlah nasabah kami,” ujarnya.
 
KERJA SAMA
Tidak hanya itu, Equity Life juga berniat untuk menjalin kerja sama dengan bank pembangunan daerah (BPD) dan koperasi untuk memperluas jangkauan bisnisnya.
Sesuai dengan pangsa pasar Equity Life selama ini, perusahaan asuransi jiwa ini mengklaim telah memiliki mitra institusi keuangan sebanyak 150 lembaga, di mana sebagian besar merupakan BPD.
“Ada juga beberapa di antaranya yang merupakan bank BUMN, dan sisanya adalah koperasi. Kami akan konsisten untuk memperbanyak mitra di bank daerah dan koperasi untuk menarik lebih banyak nasabah dengan segmen kelas menengah ke bawah,” katanya.
Rinaldi Mudahar, Presiden Direktur PT Prudential Life Assurance (Prudential), mengatakan kontribusi premi reguler masih lebih dominan ketimbang premi tunggal. “Masih lebih banyak premi reguler, dan akan terus seperti itu karena premi reguler lebih sustain,” katanya. Mengutip data AAJI, pada kuartal I/2015 produk unit linked masih menjadi kontributor terbesar hingga 53,9% dari total pendapatan premi, sedangkan produk tradisional hanya menyumbang 46,1%.
Sampai dengan akhir kuartal I/2015, total pendapatan premi yang diperoleh dari produk unit linked tercatat naik 24,4%, dan produk tradisional naik 33,6%.
“Saya kira, pemerintah dan kalangan industri asuransi jiwa harus terus melakukan edukasi kepada masyarakat. Sejauh ini, dana yang di kumpulkan industri masih bersifat jangka pendek yakni unit linked,” kata Evelina F. Pietruschka, Presiden Komisaris PT Asuransi Jiwa Adisarana Wanaartha.
 


Thursday, 28 May 2015

Sosok Arbiter Junaedy Ganie - Arbitrase / Wawancara


SOSOK ARBITER JUNAEDY GANIE

Berawal dari Melakukan Perjalanan

Bisnis Indonesia, 21 Mei 2015

Wan Ulfa Nur Zuhra


 

 

Di Palembang, Sumatra Selatan, seorang pemuda bernama Junaedy Ganie menyusun rencana untuk melakukan perjalanan ke negeri yang jauh. Usianya 19 tahun kala itu. Gagasan tentang perjalanan itu sudah dipikirkannya sejak tahun pertama menjadi mahasiswa. Menurutnya, melakukan perjalanan akan memberinya banyak pelajaran tentang banyak hal baru. Beruntung, dia punya seorang teman dengan ide yang sama. Keduanya saling menguatkan keinginan satu sama lain. Alhasil, berangkatlah mereka ke Sydney, Australia.

Di Sydney, mereka ikut berbagai kursus, keduanya belajar banyak hal mulai dari bahasa, budaya, hingga bisnis. Dua tahun kemudian, Junaedy memutuskan kembali ke Indonesia dan temannya menetap di Sydney hingga kini. Junaedy tidak pulang ke Palembang, melainkan ke Jakarta. Selama di Sydney, dia melihat betapa industri asuransi tumbuh dengan pesat. “Saya lihat perusahaan asuransi kantornya megah-megah, beda dengan di Indonesia waktu itu,” katanya. Dia pun memantapkan diri untuk berkarir di bidang asuransi. Waktu itu, karena belum menyelesaikan pendidikan sarjana, Junaedy hanya bisa menjadi door to door salesman atau agen asuransi. Namun kerja keras dan ke inginan untuk terus belajar membawanya sampai pada saat ini, seorang arbiter yang dengan bijak menjadi mediator atas berbagai sengketa.

Menjadi seorang arbiter bukanlah rencananya sejak awal. Pilihan itu berawal dari kegelisahan terkait banyaknya persengketaan yang ditangani oleh hakim dan pengacara yang kerap memiliki pengetahuan terbatas tentang kasus yang dipersengketakan. Lulusan S3 Hukum Bisnis Universitas Padjadjaran itu menunjukkan ketertarikannya terhadap penyelesaian sengketa melalui arbitrase jauh sebelum dia melanjutkan perndidikan S2-nya. Ketertarikan itu juga dibuktikannya dengan menyusun tesis tentang arbitrase dan memilih Prof. Priyatna Abdurrasyid sebagai ketua pembimbingnya.

 

PENGAKUAN KEPAKARAN

Priyatna yang merupakan Ketua Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI) pun melihat ketertarikan Junaedy dan meminangnya sebagai arbiter setahun setelah kelulusannya. Menjadi arbiter bukanlah suatu perkerjaan yang semua orang bisa melamar, sebab arbiter biasanya dilamar. Menurutnya hal itu merupakan pengakuan kepakaran seseorang dalam bidangnya dan atas nilai yang dianutnya.

Sebelum melanjutkan sekolah di Hukum Bisnis Unpad, Junaedy mengawali karirnya sebagai agen asuransi. Karirnya terus menanjak, pada 2011 hingga 2014 lalu, Junaedy menjabat sebagai pucuk pimpin an PT BNI Life Insurance. Kini dia juga menjabat sebagai komisaris independen di Allianz, perusahaan asuransi jiwa berbasis di jerman. Sepak terjang Junaedy di industri asuransi membuatnya di percaya menangani sengketa terkait asuransi dan penjaminan. Pada awalnya dua sektor itu saja yang ditanganinya sebagai arbiter. Namun, seiring pengalaman yang bertambah dan kepercayaan masyarakat yang meningkat, dia dipercaya menjadi arbiter untuk berbagai perkara non-asuransi seperti investasi, pertambangan, telekomunikasi, infrastruktur, dan sebagainya. Latar belakang sebagai pialang asuransi dan risk manager yang digelutinya selama puluhan tahun, menjadi modal berharga dalam memahami bisnis yang sedang dipersengketakan dalam perkara arbitrase. “Menjadi broker dan risk manager itu kan menangani berbagai perusahaan dari sekian banyak sektor, untuk menangani risikonya kan harus paham jenis bisnisnya, dari situlah saya memiliki pemahaman akan banyak sektor bisnis,” ungkapnya.

Kegemaran Junaedy melakukan perjalanan tidak luntur hingga sekarang. Jika ada waktu luang, dia kerap menyisihkannya untuk melakukan perjalanan bersama keluarga. “Kebetulan istri dan anak-anak saya juga senang jalan,” katanya. Tiap ada perjalanan bisnis pun, Junaedy kerap menyempatkan untuk mengunjungi tempat-tempat yang menurutnya menarik. Saat ke Medan, misalnya, di tengah-tengah kesibukan, dia menyempatkan diri ke kediaman Tjong A Fie, seorang saudagar Tiongkok yang cukup berjasa dalam pembangunan perekonomian kota Medan. Atau saat dia ke Tasikmalaya untuk perjalanan bisnis, dalam perjalanan pulang, Junaedy menyempatkan singgah ke Kampung Naga, sebuah kampong yang penduduknya masih bertahan dalam kehidupan tanpa listrik dan selalu menjaga kelestarian alam. Junaedy memang enggan mengunjungi tempat-tempat yang terlalu biasa dikunjungi. Dalam melakukan perjalanan, dia kerap mencari keunikan budaya dan sejarah, selain sekadar keindahan alamnya.

Tuesday, 5 May 2015

Penyelesaian Sengketa Lewat Arbitrase Meningkat - Arbitrase


SENGKETA BISNIS

Penyelesaian Lewat Arbitrase Meningkat
(Bisnis Indonesia, Senin, 4 Mei 2015)

 JAKARTA — Penyelesaian sengketa bisnis lewat arbitrase terus meningkat.  Hal itu ditunjukkan terus bertambahnya jumlah perkara yang masuk ke Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI).

Sekretaris Jenderal BANI N. Krisnawenda menyatakan sepanjang tahun lalu jumlah perkara yang terdaftar di BANI 88 kasus. “Untuk tahun ini, dari Januari sampai Maret saja sudah ada 37 perkara,” ujarnya kepada Bisnis, belum lama ini.

Menurutnya, meningkatnya minat para pelaku bisnis menyelesaikan sengketa melalui arbitrase disebabkan oleh diundangkannya Undang-undang tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa pada 1999. Selain itu, Krisnawenda menyatakan pihaknya juga kian gencar melakukan sosialisasi melalui seminar dan workshop.

Junaedy Ganie, salah satu arbiter BANI mengatakan meningkatnya kepercayaan pelaku bisnis menyelesaikan sengketa melalui arbitrase karena sifatnya yang lebih tertutup dibandingkan pengadilan. “Kerahasiaan dari yang bersengketa harus dijaga ketat,” ungkapnya.

Selain karakteristik cepat, efisien dan tuntas, lanjutnya arbitrase juga menganut prinsip win-win solution, dan tidak bertele-tele karena tidak ada lembaga banding dan kasasi. Biaya arbitrase juga lebih terukur, karena prosesnya lebih cepat.

Keunggulan lain arbitrase adalah putusannya yang final dan mengikat, selain sifatnya yang rahasia di mana proses persidangan dan putusan arbitrase tidak dipublikasikan.

Selain itu, arbiter yang menangani perkara juga biasanya paham akan sektor bisnis yang dipersengketakan. “Ini berbeda dengan majelis hakim pengadilan yang hanya mengerti hukumnya tetapi seringnya tidak memahami sektor bisnis tertentu secara detil,” kata Junaedy.

Sepanjang 2010 sampai 2014, BANI telah menangani sekitar 310 kasus sengketa bisnis. Menurut data yang dirilis BANI, dalam lima tahun terakhir, sengketa yang paling banyak terdaftar di BANI adalah sengketa di sektor konstruksi, porsinya mencapai 30,8% dari total sengketa.

Sektor lainnya yang juga cukup sering ditangani BANI adalah dari sektor leasing, yakni mencapai 20,8%. Selebihnya merupakan perkara dari sektor pertambangan dan energi, investasi, keagenan, transportasi, asuransi, dan lain sebagainya. (Wan Ulfa N.Z.)

Thursday, 23 April 2015

Menggali potensi wisata domestik. Benarkah wisata Nusantara itu mahal? Oleh-oleh dari Labuan Bajo - Public Policy / Pariwisata


 

Oleh Dr. Junaedy Ganie

Pemerintah akan menambah 30 negara asal turis yang bebas visa kunjungan ke Indonesia sehingga menjadi 45 negara. Rencana yang sudah termasuk dalam salah satu dari 8 Paket Kebijakan Pemerintah yang diluncurkan bulan Maret 2015 mungkin harus melalui proses terkait  asas resiprokal yang kita anut padahal tidak semua negara diberikan kemudahan bebas visa masuk akan memberikan kemudahan yang sama kepada warga negara Indonesia. Bagaimanapun, sebagai perbandingan, Malaysia dan Thailand telah memberikan bebas  visa kunjungan masing-masing kepada 144 dan 56 negara dan mereka menerima kunjungan wisatawan asing masing-masing 27.43 juta dan 24.77 juta orang pada tahun 2014.  Indonesia hanya kedatangan 9.43 juta orang.

Sementara kebijakan bebas visa masuk tentu akan meningkatkan jumlah turis tetapi untuk memperoleh jumlah yang optimal diperlukan suatu kebijakan lanjutan yang berfokus pada kelancaran arus informasi tentang daya tarik Indonesia, baik dari dari budaya, alam, wisata belanja, pameran dan berbagai hal lainnya dan dukungan infrastruktur yang baik mulai dari SDM, transportasi, hotel dari berbagai tingkatan, kebersihan dan budaya melayani. Adanya fasilitas perawatan kesehatan yang baik tidak kalah pentingnya dari sarana pendukung pokok lainnya. Demikian juga dengan faktor keamanan dan kebersihan serta kesadaran terhadap kelestarian lingkungan. Di atas semuanya, kebijakan tersebut harus dimulai dengan pemahaman yang baik tentang dimana industri wisata Indonesia saat ini, kekurangan dan daya tarik yang tidak dimiliki negara lain sehingga dipahami dengan baik langkah-langkah yang akan diambil.

Untuk mencapai tujuan tersebut, diperlukan keterlibatan semua lapisan pemangku kepentingan dan masyarakat.  Mengapa sulit menemukan brosur pariwisata di hotel-hotel di Indonesia? Mengapa informasi di dunia maya tentang obyek kunjungan yang menarik di Indonesia belum banyak dan kurang menarik? Kalau industri pariwisata sendiri belum mampu, disinilah pemerintah harus berperan untuk mengisi dan mengatasinya.

“Kita membanggakan diri sebagai bangsa yang memiliki kreatifitas tinggi tapi sampai saat ini kita tidak memiliki slogan pariwisata atau tagline yang menggemakan dengan tepat daya tarik Indonesia di mata dunia untuk berkunjung. Bandingkan cakupan dan bobot makna yang terasa dalam tagline Truly Asia nya Malaysia dengan Wondeful Indonesia. Indonesia memang negara besar yang menawarkan banyak daya tarik. Jika belum ada yang bersifat nasional secara tepat, mungkin yang lebih dibutuhkan adalah tagline untuk masing-masing sektor pariwisata seperti budaya, alam, belanja. Perlu dipelajari apakah lebih baik promosi pariwisata dibagi dalam kluster-kluster sesuai sektor atau berdasarkan potensi wilayah. Bukan dengan pendekatan “Ini Indonesia yang besar dan memiliki semuanya. Datanglah” sehingga pesan menjadi sulit disampaikan dan calon pengunjung sulit untuk  mencerna dan menentukan pilihan dan biaya menjadi mahal. 

Peran masyarakat Bali atas pentingnya melayani, memberi informasi dan menjaga turis  asing dan domestik sangat besar dalam menciptakan dan melestarikan daya tarik pariwisata Bali. Pemerintah perlu membangkitkan kesadaran masyarakat di berbagai daerah dengan kekayaan potensi pariwisata yang berharga untuk berperan sama. Jika belum pernah dilakukan, upaya melibatkan masyarakat luas harus dimulai secara tepat dari sekarang bersamaan dengan momentum bebas visa kunjungan ini. Kita berupaya keras mendukung kejayaan Indonesia di berbagai kompetisi kemampuan intelektual di tingkat dunia dan telah menorehkan prestasi, misalnya, pada Olympiade Mathematika. Bagaimana jika kita juga memiliki, mulai dari tingkat SD, SMP, SMA dan Universitas serta masyarakat umum, pemenang kompetisi “Sekiranya saya Menteri Pariwisata” sebagai salah satu contoh atau “Peranku sebagai (Bupati/Walikota/Camat) dalam pariwisata daerahku”. Hasil kompetisi tersebut akan memberikan beragam masukan berharga bagi pemerintah dan pelaku usaha pariwisata dan sektor pendukung disamping buah dalam peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya peranan masyarakat dalam pengembangan dunia pariwisata dan multiplier effect yang yang dihasilkannya.  Termasuk kesadaran akan pilihan karir dalam bidang pariwisata. Memang tidak banyak yang dapat dilakukan  dengan biaya promosi pariwisata yang sebesar Rp 300 milyar pada 2014. Kenaikan menjadi Rp 1.2 triliun pada tahun 2015 harus menunjukan perbedaan yang nyata.

Salah satu kekurangan sektor pariwisata adalah kadangkala terdapat perbedaan perlakuan antara wisatawan domestik dan asing, sementara wisatawan Indonesia diperlakukan tanpa perbedaan dalam kunjungan wisata ke luar negeri. Wisatawan asing akan mendatangkan devisa dan memperbaiki defisit neraca perdagangan Indonesia tetapi jumlah wisatawan domestik yang besar akan memberikan dampak positif yang besar pula, bahkan mungkin lebih besar, bagi penyebaran dan pemerataan pendapatan nasional. Jangan pula disampingkan peranan wisata domestik dalam merajut keutuhan persatuan Nusantara.

Persepsi bahwa wisata lokal itu mahal perlu diatasi, bukan dengan penghalusan kata meskipun tetap mahal tetapi dengan melahirkan sinergi dan pemahaman bahwa wisata lokal menjadi mahal karena pendatang masih kecil dan biaya yang mahal membuat jumlah wisatawan tidak meningkat. Pemerintah perlu mengatur strategi, menemukan terobosan untuk mengatasinya dan bahkan harus siap membiayainya terutama pada musim atau event tertentu sehingga biaya menjadi murah karena jumlah wisatawan yang besar termasuk jika perlu penyediaan sarana transportasi umum pada musim-musim tersebut karena biaya transportasi, selain sepeda motor, merupakan komponen biaya yang tinggi pada kunjungan ke daerah yang jumlah wisatawan masih terbatas. Demikian juga dengan adanya sinergi dalam pengaturan jadwal penerbangan, misalnya bagaimana membuat jadwal penerbangan lanjutan yang baik sehingga wisatawan tidak harus menginap di tempat transit agar bisa mengambil jadwal penerbangan pagi keesokan harinya.  Untuk itu diperlukan peta wisata (road map) yang saling mendukung sesuai dengan sektor, minat dan kluster-kluster yang dibentuk sesuai dengan potensi daerah masing-masing. Tuntutan dan kebutuhan wisatawan asing dan domestik sudah sama. Terpenuhi salah satu akan bermanfaat bagi semua.

Besaran biaya adakalanya bisa disiasati. Di meja resepsionis sebuah hotel besar tempat kami menginap minggu lalu di Labuan Bajo terdapat pamplet “Penginapan khusus bule, Rp 100,000, per malam. Bersih, air panas” dan entah apalagi yang tertulis disana menujukan wisatawan asing pun datang dari berbagai kelas dan latar belakang dan semuanya memberikan kontribusi positif bagi Indonesia.

Dalam kunjungan kami ke Flores belum lama ini kami berkenalan dengan mereka yang datang dari Perancis, Belanda, Itali, Swiss, Denmark, bahkan perempuan Polandia yang datang karena daya tarik danau Kelimutu, Labuan Bajo, Komodo dan sekitarnya. Pengunjung terbanyak ke Kelimutu menurut guide kami adalah bangsa Perancis. Potensi wisatawan asing memang tidak terbatas. Potensi wisatawan domestik mungkin tidak kalah.

Nusantara memiliki daya tarik bagi Anda yang selama ini berwisata ke berbagai negara di Asean, Hongkong, Cina, Jepang dan Australia untuk menikmati perbedaan budaya dan memperoleh pengalaman baru. Juga bagi mereka yang melakukan perjalanan ke Timur Tengah, Mesir dan Istanbul. Masih ada tempat bagi  Anda yang selama ini berwisata ke London, Paris, Roma, New York dan kota-kota besar dunia lainnya untuk mengisi keseimbangan jiwa. Bahkan, jika Anda selama ini telah melangkah mengejar  eksotisme dan romatisme pulau pulau atau kota-kota kecil seperti Annecy di Perancis, Portofino di Italia, Santorini di Yunani, mengapa tidak mencoba menjelajahi dan menikmati ombak, pantai, untaian pulau-pulau indah dan alam bawah laut Nusantara, misalnya di Labuan Bajo dan sekitarnya selain dari kunjungan ke Pulau Komodo. Mungkin pernah mendengar pink beach atau mendaki ke puncak pulau Gili Lawa disana? It’s magnificent.  Selamat berwisata domestik.

Jakarta, 26 Maret 2015

Thursday, 9 April 2015

Cara mudah mengetahui letak halaman pertama tiap juz Al Qur an - Pembangunan Karakter Bangsa / Agama


CARA MUDAH MENGETAHUI LETAK HALAMAN PERTAMA TIAP JUZ
AL QUR AN

Tidak ada habisnya informasi tentang Al Qur an yang terus mencengangkan.  Pada kesempatan ini saya ingin berbagi tentang cara mudah untuk mengetahui halaman awal dari setiap Juz yang terdapat dalam kitab suci Al Qur an, khususnya untuk Al Qur an ukuran standar.

Informasi ini saya peroleh dari kiriman dari seorang jamaah pada group Whatsaps pada kelompok pengajian dari Masjid Baitul Mukhlishiin di komplek kediaman kami pada 23 Maret 2015. Hasilnya memang menakjubkan. Jamaah tersebut mengetahui dari seorang uztadz tetapi tidak diketahui siapa sumber pertamanya.

Terlepas dari ketidakjelasan sumber, silahkan dicoba dan semoga akan semakin menebalkan keimanan kita dan menggugah pembaca lainnya kepada kebaikan. Jika diajarkan kepada anak-anak, semoga mereka semakin mencintai Al Qur an. Saya telah mempraktiknya dan hasilnya memang mencengangkan. Namun tentu saja, metode ini tidak berlaku untuk Juz yang pertama.

Rumus nya adalah sebagai berikut:

a.   Juz yang dicari – 1.

b.   Jumlahnya x 2.

c.   Letakan angka 2 di belakang hasil perkalian di atas.

Mari kita lihat dan praktikan bersama.

Contoh 1.

Jika Anda ingin mengetahui Juz 5 terdapat di halaman berapa, maka caranya:

a.   5 – 1= 4.

b.   Angka 4 x 2=8.

c.    Letakan angka 2 setelah jawaban b.

d.   Jadi Juz 5 terdapat pada halaman 82.

Silahkan buka Al Qur an untuk membuktikannya dan akan menemukan Juz 5 dimulai pada halaman 82. Menarik bukan?

Contoh 2.

Jika Anda ingin mengetahui Juz 10 terdapat di halaman berapa, maka caranya:

a.   10 – 1= 9.

b.   Kalikan 9 dengan 2 sehingga diperoleh angka 18.

c.    Letakan angka 2 setelah angka 18 tadi.

d.   Terbukti Juz 10 terdapat pada halaman 182.

Contoh 3

Jika Anda ingin mengetahui Juz 17 terdapat di halaman berapa, maka caranya:

a.   17 – 1= 16.

b.   Angka 16 x 2= 32.

c.    Letakan angka 2 di belakang angka 32.

d.   Jadi Juz 17 terdapat pada halaman 322.

Contoh 4.

Jika Anda ingin mengetahui Juz 25 terdapat di halaman berapa, maka caranya:

a.   25 – 1= 24.

b.   Angka 24 x 2= 48.

c.    Letakan angka 2 setelah angka 48.

d.   Jadi Juz 25 terdapat pada halaman 482.

Contoh 5

Pada halaman  berapa Juz 30 dimulai:

a.   30 – 1= 29.

b.   Angka 29 x 2= 58.

c.    Letakan angka 2 setelah angka 58.

d.   Jadi Juz 30 terdapat pada halaman 582.

 

Mengagumkan bukan?. Selamat mencoba.

Jakarta, 9 April 2015.

Dibagi oleh Junaedy Ganie dari sumber awal yang belum diketahui.