Tuesday, 5 May 2015

Penyelesaian Sengketa Lewat Arbitrase Meningkat


4 SENGKETA BISNIS

Penyelesaian Lewat Arbitrase Meningkat
(Bisnis Indonesia, Senin, 4 Mei 2015)

 JAKARTA — Penyelesaian sengketa bisnis lewat arbitrase terus meningkat.  Hal itu ditunjukkan terus bertambahnya jumlah perkara yang masuk ke Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI).

Sekretaris Jenderal BANI N. Krisnawenda menyatakan sepanjang tahun lalu jumlah perkara yang terdaftar di BANI 88 kasus. “Untuk tahun ini, dari Januari sampai Maret saja sudah ada 37 perkara,” ujarnya kepada Bisnis, belum lama ini.

Menurutnya, meningkatnya minat para pelaku bisnis menyelesaikan sengketa melalui arbitrase disebabkan oleh diundangkannya Undang-undang tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa pada 1999. Selain itu, Krisnawenda menyatakan pihaknya juga kian gencar melakukan sosialisasi melalui seminar dan workshop.

Junaedy Ganie, salah satu arbiter BANI mengatakan meningkatnya kepercayaan pelaku bisnis menyelesaikan sengketa melalui arbitrase karena sifatnya yang lebih tertutup dibandingkan pengadilan. “Kerahasiaan dari yang bersengketa harus dijaga ketat,” ungkapnya.

Selain karakteristik cepat, efisien dan tuntas, lanjutnya arbitrase juga menganut prinsip win-win solution, dan tidak bertele-tele karena tidak ada lembaga banding dan kasasi. Biaya arbitrase juga lebih terukur, karena prosesnya lebih cepat.

Keunggulan lain arbitrase adalah putusannya yang final dan mengikat, selain sifatnya yang rahasia di mana proses persidangan dan putusan arbitrase tidak dipublikasikan.

Selain itu, arbiter yang menangani perkara juga biasanya paham akan sektor bisnis yang dipersengketakan. “Ini berbeda dengan majelis hakim pengadilan yang hanya mengerti hukumnya tetapi seringnya tidak memahami sektor bisnis tertentu secara detil,” kata Junaedy.

Sepanjang 2010 sampai 2014, BANI telah menangani sekitar 310 kasus sengketa bisnis. Menurut data yang dirilis BANI, dalam lima tahun terakhir, sengketa yang paling banyak terdaftar di BANI adalah sengketa di sektor konstruksi, porsinya mencapai 30,8% dari total sengketa.

Sektor lainnya yang juga cukup sering ditangani BANI adalah dari sektor leasing, yakni mencapai 20,8%. Selebihnya merupakan perkara dari sektor pertambangan dan energi, investasi, keagenan, transportasi, asuransi, dan lain sebagainya. (Wan Ulfa N.Z.)

Thursday, 23 April 2015

Menggali potensi wisata domestik. Benarkah wisata Nusantara itu mahal?


 

Oleh Dr. Junaedy Ganie

Pemerintah akan menambah 30 negara asal turis yang bebas visa kunjungan ke Indonesia sehingga menjadi 45 negara. Rencana yang sudah termasuk dalam salah satu dari 8 Paket Kebijakan Pemerintah yang diluncurkan bulan Maret 2015 mungkin harus melalui proses terkait  asas resiprokal yang kita anut padahal tidak semua negara diberikan kemudahan bebas visa masuk akan memberikan kemudahan yang sama kepada warga negara Indonesia. Bagaimanapun, sebagai perbandingan, Malaysia dan Thailand telah memberikan bebas  visa kunjungan masing-masing kepada 144 dan 56 negara dan mereka menerima kunjungan wisatawan asing masing-masing 27.43 juta dan 24.77 juta orang pada tahun 2014.  Indonesia hanya kedatangan 9.43 juta orang.

Sementara kebijakan bebas visa masuk tentu akan meningkatkan jumlah turis tetapi untuk memperoleh jumlah yang optimal diperlukan suatu kebijakan lanjutan yang berfokus pada kelancaran arus informasi tentang daya tarik Indonesia, baik dari dari budaya, alam, wisata belanja, pameran dan berbagai hal lainnya dan dukungan infrastruktur yang baik mulai dari SDM, transportasi, hotel dari berbagai tingkatan, kebersihan dan budaya melayani. Adanya fasilitas perawatan kesehatan yang baik tidak kalah pentingnya dari sarana pendukung pokok lainnya. Demikian juga dengan faktor keamanan dan kebersihan serta kesadaran terhadap kelestarian lingkungan. Di atas semuanya, kebijakan tersebut harus dimulai dengan pemahaman yang baik tentang dimana industri wisata Indonesia saat ini, kekurangan dan daya tarik yang tidak dimiliki negara lain sehingga dipahami dengan baik langkah-langkah yang akan diambil.

Untuk mencapai tujuan tersebut, diperlukan keterlibatan semua lapisan pemangku kepentingan dan masyarakat.  Mengapa sulit menemukan brosur pariwisata di hotel-hotel di Indonesia? Mengapa informasi di dunia maya tentang obyek kunjungan yang menarik di Indonesia belum banyak dan kurang menarik? Kalau industri pariwisata sendiri belum mampu, disinilah pemerintah harus berperan untuk mengisi dan mengatasinya.

“Kita membanggakan diri sebagai bangsa yang memiliki kreatifitas tinggi tapi sampai saat ini kita tidak memiliki slogan pariwisata atau tagline yang menggemakan dengan tepat daya tarik Indonesia di mata dunia untuk berkunjung. Bandingkan cakupan dan bobot makna yang terasa dalam tagline Truly Asia nya Malaysia dengan Wondeful Indonesia. Indonesia memang negara besar yang menawarkan banyak daya tarik. Jika belum ada yang bersifat nasional secara tepat, mungkin yang lebih dibutuhkan adalah tagline untuk masing-masing sektor pariwisata seperti budaya, alam, belanja. Perlu dipelajari apakah lebih baik promosi pariwisata dibagi dalam kluster-kluster sesuai sektor atau berdasarkan potensi wilayah. Bukan dengan pendekatan “Ini Indonesia yang besar dan memiliki semuanya. Datanglah” sehingga pesan menjadi sulit disampaikan dan calon pengunjung sulit untuk  mencerna dan menentukan pilihan dan biaya menjadi mahal. 

Peran masyarakat Bali atas pentingnya melayani, memberi informasi dan menjaga turis  asing dan domestik sangat besar dalam menciptakan dan melestarikan daya tarik pariwisata Bali. Pemerintah perlu membangkitkan kesadaran masyarakat di berbagai daerah dengan kekayaan potensi pariwisata yang berharga untuk berperan sama. Jika belum pernah dilakukan, upaya melibatkan masyarakat luas harus dimulai secara tepat dari sekarang bersamaan dengan momentum bebas visa kunjungan ini. Kita berupaya keras mendukung kejayaan Indonesia di berbagai kompetisi kemampuan intelektual di tingkat dunia dan telah menorehkan prestasi, misalnya, pada Olympiade Mathematika. Bagaimana jika kita juga memiliki, mulai dari tingkat SD, SMP, SMA dan Universitas serta masyarakat umum, pemenang kompetisi “Sekiranya saya Menteri Pariwisata” sebagai salah satu contoh atau “Peranku sebagai (Bupati/Walikota/Camat) dalam pariwisata daerahku”. Hasil kompetisi tersebut akan memberikan beragam masukan berharga bagi pemerintah dan pelaku usaha pariwisata dan sektor pendukung disamping buah dalam peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya peranan masyarakat dalam pengembangan dunia pariwisata dan multiplier effect yang yang dihasilkannya.  Termasuk kesadaran akan pilihan karir dalam bidang pariwisata. Memang tidak banyak yang dapat dilakukan  dengan biaya promosi pariwisata yang sebesar Rp 300 milyar pada 2014. Kenaikan menjadi Rp 1.2 triliun pada tahun 2015 harus menunjukan perbedaan yang nyata.

Salah satu kekurangan sektor pariwisata adalah kadangkala terdapat perbedaan perlakuan antara wisatawan domestik dan asing, sementara wisatawan Indonesia diperlakukan tanpa perbedaan dalam kunjungan wisata ke luar negeri. Wisatawan asing akan mendatangkan devisa dan memperbaiki defisit neraca perdagangan Indonesia tetapi jumlah wisatawan domestik yang besar akan memberikan dampak positif yang besar pula, bahkan mungkin lebih besar, bagi penyebaran dan pemerataan pendapatan nasional. Jangan pula disampingkan peranan wisata domestik dalam merajut keutuhan persatuan Nusantara.

Persepsi bahwa wisata lokal itu mahal perlu diatasi, bukan dengan penghalusan kata meskipun tetap mahal tetapi dengan melahirkan sinergi dan pemahaman bahwa wisata lokal menjadi mahal karena pendatang masih kecil dan biaya yang mahal membuat jumlah wisatawan tidak meningkat. Pemerintah perlu mengatur strategi, menemukan terobosan untuk mengatasinya dan bahkan harus siap membiayainya terutama pada musim atau event tertentu sehingga biaya menjadi murah karena jumlah wisatawan yang besar termasuk jika perlu penyediaan sarana transportasi umum pada musim-musim tersebut karena biaya transportasi, selain sepeda motor, merupakan komponen biaya yang tinggi pada kunjungan ke daerah yang jumlah wisatawan masih terbatas. Demikian juga dengan adanya sinergi dalam pengaturan jadwal penerbangan, misalnya bagaimana membuat jadwal penerbangan lanjutan yang baik sehingga wisatawan tidak harus menginap di tempat transit agar bisa mengambil jadwal penerbangan pagi keesokan harinya.  Untuk itu diperlukan peta wisata (road map) yang saling mendukung sesuai dengan sektor, minat dan kluster-kluster yang dibentuk sesuai dengan potensi daerah masing-masing. Tuntutan dan kebutuhan wisatawan asing dan domestik sudah sama. Terpenuhi salah satu akan bermanfaat bagi semua.

Besaran biaya adakalanya bisa disiasati. Di meja resepsionis sebuah hotel besar tempat kami menginap minggu lalu di Labuan Bajo terdapat pamplet “Penginapan khusus bule, Rp 100,000, per malam. Bersih, air panas” dan entah apalagi yang tertulis disana menujukan wisatawan asing pun datang dari berbagai kelas dan latar belakang dan semuanya memberikan kontribusi positif bagi Indonesia.

Dalam kunjungan kami ke Flores belum lama ini kami berkenalan dengan mereka yang datang dari Perancis, Belanda, Itali, Swiss, Denmark, bahkan perempuan Polandia yang datang karena daya tarik danau Kelimutu, Labuan Bajo, Komodo dan sekitarnya. Pengunjung terbanyak ke Kelimutu menurut guide kami adalah bangsa Perancis. Potensi wisatawan asing memang tidak terbatas. Potensi wisatawan domestik mungkin tidak kalah.

Nusantara memiliki daya tarik bagi Anda yang selama ini berwisata ke berbagai negara di Asean, Hongkong, Cina, Jepang dan Australia untuk menikmati perbedaan budaya dan memperoleh pengalaman baru. Juga bagi mereka yang melakukan perjalanan ke Timur Tengah, Mesir dan Istanbul. Masih ada tempat bagi  Anda yang selama ini berwisata ke London, Paris, Roma, New York dan kota-kota besar dunia lainnya untuk mengisi keseimbangan jiwa. Bahkan, jika Anda selama ini telah melangkah mengejar  eksotisme dan romatisme pulau pulau atau kota-kota kecil seperti Annecy di Perancis, Portofino di Italia, Santorini di Yunani, mengapa tidak mencoba menjelajahi dan menikmati ombak, pantai, untaian pulau-pulau indah dan alam bawah laut Nusantara, misalnya di Labuan Bajo dan sekitarnya selain dari kunjungan ke Pulau Komodo. Mungkin pernah mendengar pink beach atau mendaki ke puncak pulau Gili Lawa disana? It’s magnificent.  Selamat berwisata domestik.

Jakarta, 26 Maret 2015

Thursday, 9 April 2015

Cara mudah mengetahui letak halaman pertama tiap juz Al Qur an


CARA MUDAH MENGETAHUI LETAK HALAMAN PERTAMA TIAP JUZ
AL QUR AN

Tidak ada habisnya informasi tentang Al Qur an yang terus mencengangkan.  Pada kesempatan ini saya ingin berbagi tentang cara mudah untuk mengetahui halaman awal dari setiap Juz yang terdapat dalam kitab suci Al Qur an, khususnya untuk Al Qur an ukuran standar.

Informasi ini saya peroleh dari kiriman dari seorang jamaah pada group Whatsaps pada kelompok pengajian dari Masjid Baitul Mukhlishiin di komplek kediaman kami pada 23 Maret 2015. Hasilnya memang menakjubkan. Jamaah tersebut mengetahui dari seorang uztadz tetapi tidak diketahui siapa sumber pertamanya.

Terlepas dari ketidakjelasan sumber, silahkan dicoba dan semoga akan semakin menebalkan keimanan kita dan menggugah pembaca lainnya kepada kebaikan. Jika diajarkan kepada anak-anak, semoga mereka semakin mencintai Al Qur an. Saya telah mempraktiknya dan hasilnya memang mencengangkan. Namun tentu saja, metode ini tidak berlaku untuk Juz yang pertama.

Rumus nya adalah sebagai berikut:

a.   Juz yang dicari – 1.

b.   Jumlahnya x 2.

c.   Letakan angka 2 di belakang hasil perkalian di atas.

Mari kita lihat dan praktikan bersama.

Contoh 1.

Jika Anda ingin mengetahui Juz 5 terdapat di halaman berapa, maka caranya:

a.   5 – 1= 4.

b.   Angka 4 x 2=8.

c.    Letakan angka 2 setelah jawaban b.

d.   Jadi Juz 5 terdapat pada halaman 82.

Silahkan buka Al Qur an untuk membuktikannya dan akan menemukan Juz 5 dimulai pada halaman 82. Menarik bukan?

Contoh 2.

Jika Anda ingin mengetahui Juz 10 terdapat di halaman berapa, maka caranya:

a.   10 – 1= 9.

b.   Kalikan 9 dengan 2 sehingga diperoleh angka 18.

c.    Letakan angka 2 setelah angka 18 tadi.

d.   Terbukti Juz 10 terdapat pada halaman 182.

Contoh 3

Jika Anda ingin mengetahui Juz 17 terdapat di halaman berapa, maka caranya:

a.   17 – 1= 16.

b.   Angka 16 x 2= 32.

c.    Letakan angka 2 di belakang angka 32.

d.   Jadi Juz 17 terdapat pada halaman 322.

Contoh 4.

Jika Anda ingin mengetahui Juz 25 terdapat di halaman berapa, maka caranya:

a.   25 – 1= 24.

b.   Angka 24 x 2= 48.

c.    Letakan angka 2 setelah angka 48.

d.   Jadi Juz 25 terdapat pada halaman 482.

Contoh 5

Pada halaman  berapa Juz 30 dimulai:

a.   30 – 1= 29.

b.   Angka 29 x 2= 58.

c.    Letakan angka 2 setelah angka 58.

d.   Jadi Juz 30 terdapat pada halaman 582.

 

Mengagumkan bukan?. Selamat mencoba.

Jakarta, 9 April 2015.

Dibagi oleh Junaedy Ganie dari sumber awal yang belum diketahui.

 

 

Wednesday, 25 March 2015

Renungan di puncak Gunung Kelimutu dan Danau Tiga Warna


Renungan di puncak Gunung Kelimutu dan Danau Tiga warna

Sebuah oleh-oleh dari Flores.

 

Oleh Dr. Junaedy Ganie

 

Kami telah lama mengidamkan kunjungan ke Flores, baik karena alasan ketertarikan terhadap daya tarik wisata alam dan laut yang dimiliki pulau tersebut maupun karena alasan akar sejarah keluarga dari pihak isteri saya.

Rencana kunjungan tersebut selama ini selalu tertunda dengan berbagai alasan. Namun, jika memang sudah waktunya niat tersebut terlaksana tanpa direncanakan. Berhubung kolega yang kami undang bersama isterinya untuk berakhir pekan di pulau X berhalangan, kami melakukan improvisasi atas program wisata dengan mengajak ketiga anak kami untuk ikut serta. Kebetulan mereka bisa walaupun dengan usulan tertentu. Untuk mengimbangi permintaan anak-anak untuk memilih tujuan dengan tempat menyelam (diving sites) yang menarik, kunjungan 5 hari di Flores menjadi pilihan kami kali ini. Jadilah kami memesan tiket Garuda ke Ende dan Labuan Bajo  pada 17 Maret 2015 malam dan keesokan malamnya langsung terbang menuju Flores dengan sebelumnya menginap semalam di Bali.

Rasanya sudah sejak masa kecil foto danau tiga warna Kelimutu terpatri di ingatan saya pribadi. Pulau Komodo yang telah menjadi situs wisata warisan dunia (World’s Herritage site) ikut menjadi pendorong kami untuk berkunjung ke Flores.

Demi merangkai kekerabatan, pilihan pertama kami adalah kota Ende. Kami menerima sambutan hangat dari keluarga besar disana yang selama ini banyak yang tidak saling mengenal dengan kami. Belum lagi kehebohan “sekampung” yang ingin berfoto dengan puteri kami karena profesinya di masa lalu yang masih tersimpan di kenangan mereka. Alhamdulillah, niat bersilaturahim dengan kerabat disana terpenuhi. Acapkali pertemuan pertama sulit terlaksana tetapi setelah itu kesempatan baru sering tercipta. Semoga.

Kota tersebut tampak bersih, rapi tertata dengan infrastruktur jalan yang baik. Kontur alam yang berbukit membuatnya menjadi lebih menarik. Kami menyempatkan diri untuk mengunjungi rumah tahanan Soekarno (Bung Karno, Presiden pertama RI) sewaktu diasingkan Belanda di masa penjajahan. Kami juga ke lapangan yang menghadap ke pantai tempat perenungan Bung Karno dalam menggali pemikiran tentang Pancasila. Mungkin karena rasa hormat yang tinggi kepada tokoh proklamator tersebut, bulu roma di kedua lengan saya berdiri semua selama berada disana. Di situs tersebut kini terdapat patung Bung Karno yang diresmikan oleh Taufik Kiemas tidak lama sebelum beliau meninggal. Kami juga melewati gedung “tonil” tempat  pertunjukan sandiwara yang diprakarsai Bung Karno sedang direnovasi. Beberapa hal yang mungkin dapat menjadi bahan pemikiran, antara lain, pertama, bagaimana seorang pemimpin membaur dan terlibat aktif dengan masyarakat setempat dalam kesehariannya sehingga dapat menyelami budaya setempat dan menyebarkan pemikirannya dan, kedua, walaupun Belanda mengasingkan pemimpin-pemimpin pendukung kemerdekaan dalam status tahanan, rumah tempat pengasingan yang disediakan selalu merupakan rumah-rumah yang umumnya cukup besar dan dalam kondisi yang layak huni sebagai bentuk tanggung jawab mereka.

Untuk mendekati lokasi danau Kelimutu kami telah memesan penginapan di Moni, ibukota Kecamatan Moni. Perjalanan dari Ende ke Moni umumnya di tempuh dalam waktu 1 ½ jam. Tetapi beberapa hari sebelum kunjungan kami telah terjadi tanah longsor besar yang menimbulkan kerusakan jalan parah sampai beberapa ratus meter sehingga kendaraan roda empat dan dua dilarang lewat. Di luar jam istirahat pekerja jalan, perjalanan harus melintasi bukit terjal dan semak belukar  dan bahkan untuk turun ke jalan di ujung yang lain harus melalui tangga bambu. Kami dapat menyesuaikan diri dengan jadwal jam istirahat sehingga tidak perlu melintasi bukit tersebut dan tidak harus seperti beberapa perempuan dengan keranjang dipunggung sedang menuruni tangga bambu yang tampak di TVOne beberapa hari sebelum kami kesana. Anak-anak mengatakan kalau lewat jalan pintas tersebut tentu akan lebih seru. Entah apakah mereka akan memberikan komentar yang sama jika benar-benar melaluinya di tengah udara terik saat itu. Sejumlah alat berat sedang dikerahkan melakukan perbaikan. Mungkin pada saat anda membaca tulisan ini, kondisi jalan telah normal kembali.  Secara umum, sepanjang perjalanan tersaji  pemandangan alam khas daerah perbukitan yang indah dan menyejukan mata.

Di Moni tersedia sejumlah penginapan yang baik. Kami menginap di Andy’s Lodge yang di kelola oleh Ito yang memiliki rambut gimbal sebagai ciri khas nya. Penginapan tersebut bersih dan dilengkapi dengan kebutuhan pokok termasuk air hangat di kamar mandi dan memiliki pemandangan ke perbukitan. Bagi peminat kain tenun adat dengan motif yang menarik, mereka dapat membeli langsung dari penenun atau dari pedagang di sekitar tempat menginap. Pada malam hari, langit bertabur bintang. Dengan lampu teras dimatikan dan bantuan aplikasi Google Sky Map kami menikmati bintang-bintang di angkasa serta mengetahui nama dan posisi dari masing-masing planet dan rasi bintang yang  bertebaran di langit luas.

Kami berangkat menuju Kelimutu pada jam 4.30 pagi dengan mobil sewaan bersama supir dan Ito sebagai guide. Perjalanan melalui jalan berliku dan menanjak dengan kondisi aspal yang dan marka jalan yang baik memakan waktu sekitar 45 menit. Semangat untuk mengunjungi daerah baru yang menarik menghilangkan rasa kantuk kami. Kendaraan kami yang pertama tiba di tempat parkir. Tidak lama kemudian mobil-mobil dan berbagai sepeda motor berdatangan. Setelah itu dilanjutkan dengan berjalan kaki santai bercahayakan senter sekitar 30 menit menuju ke puncak Gunung Kelimutu. Dengan kecepatan yang dimiliki oleh bule-bule yang melewati kami di pagi buta tersebut, perjalanan akan memakan waktu 15 – 20 menit saja.

Pada ketinggian 1,690 m diatas permukaan laut setelah melewati bayangan ketiga danau Kelimutu kami tiba di puncak Kelimutu. Dalam hitungan menit matahari mulai terbit. Matahari yang terbit tampak lebih besar dari yang pernah kami lihat ketika terbit di Gunung Bromo (walaupun pasti matahari yang sama) 2 tahun yang lalu. Bersamaan dengan itu bayangan danau menjadi jelas dan kami mulai menerka warna masing-masing danau pada pagi hari itu. Perjuangan menuju kesana menjadi tidak berarti dibanding keindahan dan kebesaran alam yang tampak di depan mata! Lokasi yang sangat menarik untuk merenung dan berpikir dan mencari inspirasi walaupun sesekali mungkin dapat terganggu oleh candaan penjaja kopi panas disana.

Kelimutu adalah sebuah gunung berapi aktif. Kelimutu artinya Gunung yang beruap. Menurut kepercayaan lama, danau-danau tersebut adalah tempat arwah penduduk setempat setelah meninggal. Danau yang pertama bernama ata polo yang artinya orang-orang jahat. Danau kedua disebut danau nuamuri ko’o fai yang artinya danau muda mudi. Yang terakhir danau ata mbupu atau danau orang tua. Warna masing-masing danau berubah dari waktu ke waktu, sesuai pengaruh kondisi gunung berapi tempat berada. Adakalanya,  ada yang berwarna merah. Sejak beberapa minggu yang lalu masing-masing berwarna coklat kehitaman, hijau dan hijau tua. Di tepi danau yang terendah tercatat riwayat perubahan berbagai warna masing-masing danau untuk kurun waktu tertentu. Puncak keramaian adalah pada setiap tanggal 14 Agustus ketika acara adat yang disebut patika sedang berlangsung, yaitu acara memberi sesajian kepada arwah leluhur penduduk setempat.    Fauna di sekitar juga menarik untuk diamati. Dalam perjalanan kami mendengar berbagai suara burung. Ternyata, menurut Ito, itu adalah bunyi burung geru giwa yang memiliki 14 jenis bunyi!

Di sekeliling kami pagi itu mungkin terdapat sekitar 25-30 orang dan sebagian besar adalah bule yang telah datang dari negeri yang jauh. Informasi yang kami terima mengatakan bahwa pengunjung terbesar ke Kelimutu adalah bangsa Perancis disusul oleh bangsa Belanda dan bangsa Eropa lainnya dan disana kami sempat berbicara dengan berapa orang dari kedua negeri tersebut. Kami juga berkenalan dengan  beberapa orang mahasiswa S2 yang datang  dari  Swiss. Yang tidak kalah menarik adalah keberadaan seorang wanita Polandia yang menunjukan bahwa  daya tarik Kelimutu telah mencapai negara-negara yang tidak tergolong wisatawan asing tradisional ke Indonesia. Jumlah wisatawan asing akan meningkat mulai bulan Juni sampai Agustus. Lalu, bagaimana wisatawan domestik?  Mengapa mereka bersedia datang dari jauh tetapi kita tidak? Mengapa belum sebanyak wisatawan asing  walaupun meningkat?

Benarkah jumlah yang datang masih sedikit karena mahal? Benarkah persepsi tentang infrastruktur yang buruk menjadi penyebabnya? Apakah keamanan menjadi alasan? Bagaimana tambahan pembebasan visa masuk kepada warga 30 negara dalam 8 Paket Kebijakan Pemerintah baru akan berpengaurh terhadap peningkatan kunjungan wisatawan asing ke daerah ini? Pada tulisan yang berikut, saya akan mencoba mereka-reka tentang sebagian dari pertanyaan-pertanyaan di atas terutama terkait dengan pandangan terhadap biaya berwisata domestik.

Jakarta, 25 Maret 2015 (updated 3 April 2015)

Tuesday, 17 March 2015

Menata ulang reformasi arah strategi perekonomian Indonesia


Menata ulang reformasi arah strategi perekonomian  Indonesia
8 Paket Kebijakan Pemerintah

 

Oleh Dr. Junaedy Ganie

 

Pemerintah telah mengumumkan secara resmi 8 Paket Kebijakan Perekonomian. Peningkatan penggunaan biofuel menjadi 15% sejak 1 April 2015 menjadi salah satu agendanya. Kebijakan ini dan 7 kebijakan lainnya patut untuk didukung dan disambut dengan tangan terbuka lebar. Berhubung rencana-rencana tersebut bukan semuanya pemikiran atau inisiatif baru, yang paling ditunggu masyarakat adalah ujian dalam komitmen dalam pelaksanaannya.

Peningkatan komponen  biofuel dari 10% (yang kata sebagian orang sebenarnya hanya 7% yang telah dilaksanakan) akan memberikan dukungan yang sangat baik bagi usaha minyak sawit (CPO) yang merupakan salah satu komoditas andalan Indonesia yang salama ini berkembang diantara berbagai hambatan, baik di  dalam negeri maupun di luar negeri. Diketahui bahwa pemerintah menargetkan penggunaan minyak sawit sampai 25% dari komponen biosolar pada tahun 2019 nanti. Tentunya kebijakan ini memerlukan koordinasi dengan dan kesiapan dari industri otomotif untuk menyesuaikan diri.

Sejumlah pejabat Pertamina sejak dulu mengatakan bahwa peningkatan penggunaan biofuel tersebut akan menghasilkan penghematan beban impor yang sangat besar setiap tahunnya. Terakhir dikatakan penghematan akan mencapai sekitar USD 2 milyar bila diterapkan sejak 1 April nanti sehingga tidak tertutup kemungkinan ruang subsidi akan terbuka sebagai pengorbanan jangka pendek untuk tujuan yang lebih besar dan bermanfaat  bagi masyarakat luas.

Selanjutnya, adalah dapat dibayangkan dan ini mudah-mudahan bukan mimpi bila satu demi satu dari masing-masing komoditas andalan milik bangsa seperti karet dan komoditas pemegang rekor lainnya lain mendapat perhatian seperti ini, pasar dalam negeri akan tumbuh dengan baik, defisit neraca pembayaran akan berkurang, dan multiplier effect yang dihasilnya akan tidak terbatas. Mungkin kebijakan ini jika dilakukan secara konsisten akan membuat penataan perekonomian Indonesia seperti meletakan gambar puzzle satu demi satu pada sebuah mozaik yang belum lengkap sehingga gambar atau wajah yang tersembunyi menjadi tampak keindahannya.

Selanjutnya, pemerintah dapat menoleh ke sumber daya alam seperti batubara dan gas bumi dan memposisikan mereka pada pada suatu kedudukan yang akan mengurangi ketergantungan impor dan mendorong kemandirian perekonomian nasional. Jika tidak kurang  seorang Al Gore, mantan Wakil Presiden AS dan pemenang  Hadiah Nobel 2007 dalam “The Climate Project Asia Pacific Summit” di Jakarta pada Januari  2011 mengatakan bahwa Indonesia dapat berperan besar dalam penyediaan energi dunia dari keberlimpahan energi panas bumi (geothermal) di negeri kita (Lihat tulisan Insurance Scheme for Indonesia's Geothermal Exploration and Development dalam blog ini pada 10 Desember 2014).

Sebagai seseorang yang dari waktu ke waktu mendapat kepercayaan menjadi anggota tim riset yang dibiayai oleh sejumlah lembaga donor internasional dalam rangka mempelajari upaya akselerasi pemanfaatan energi panas bumi di Indonesia, terutama dari aspek manajeman risiko, sungguh Indonesia memiliki keunggulan dan keberuntungan yang perlu dimanfaatkan sebaik mungkin.

Selanjutnya, sebagai seorang yang dalam disertasinya mendalami tentang  daya saing industri asuransi nasional, butir kebijakan lainnya yang hendak penulis sentuh adalah tentang rencana pendirian perusahaan reasuransi besar yang merupakan satu dari 8 Paket Kebijakan Pemerintah tersebut. Kebijakan ini merupakan satu langkah besar untuk mengurangi defisit neraca perdagangan Indonesia sebab bisnis asuransi selama ini memang merupakan sebuah sektor yang membebani neraca pembayaran dengan penempatan reasuransi ke luar negeri dalam jumlah yang besar.

 

 

Jakarta, 17 Maret 2015.

 

 

 

 
puzzle

Sunday, 15 March 2015

Kebijakan Peningkatan Penggunaan Biofuel Sebagai Titik Tolak Kemandirian Energi Nasional


KEBIJAKAN PENINGKATAN PENGGUNAAN BIOFUEL SEBAGAI TITIK TOLAK KEMANDIRIAN ENERGI NASIONAL

 

Oleh Dr. Junaedy Ganie

 

Selama ini BBM Biosolar yang dijual di SPBU Pertamina mengandung 10% komponen bahan nabati yang berasal dari CPO. Adalah merupakan hal yang menggembirakan bahwa diantara 8 Paket Kebijakan Pemerintah yang muncul  minggu lalu sebagai strategi untuk menekan defisit transaksi berjalan dan menstabilkan mata uang Rupiah, salah satunya adalah  peningkatan penggunaan biofuel sehingga mencapai 20%.  

Strategi ini sebenarnya bukan pemikiran baru karena selama ini target 20% tersebut memang telah lama dicanangkan walaupun strategi pencapaiannya belum jelas. Adakalanya sangat kuat gaungnya dan lain waktu sayup-sayup dan terlupakan. Namun demikian, jika cita tersebut sepenuhnya diserahkan kepada pengusaha atau sektor swasta untuk merealisikannya tentu akan sulit sekali untuk menjadikannya sebagai kenyataan. Selama ini, salah satu kendala utama adalah biaya produksi yang tidak bersaing, apalagi seiring dengan merosotnya harga minyak bumi di pasar internasional yang mengakibatkan biaya produksi biosolar menjadi tidak ekonomis dan kalah bersaing dengan harga BBM impor. Akibatnya, upaya peningkatan komponen nabati dalam biosolar menjadi tidak menarik.

Bagaimanapun, harga bahan bakar fosil juga mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Selama ini, gejolak yang timbul selalu menimbulkan ancaman ketidakstabilan perekonomian nasional. Penghabusan subsidi BBM jenis Premum (RON 88) sejak awal tahun ini telah mengurangi dampaknya pada anggaran pemerintah. Namun demikian, pelemahan mata uang Rupiah tidak pelak memberikan tekanan ketidakstabilan pada perekonomian masyarakat dan daya beli masyarakat khususnya karena besarnya ketergantungan kepada BBM impor.

Namun demikian, kebijakan baru dari pemerintah tersebut menunjukan mulai kuatnya niat politik pemerintah untuk berpijak pada kesuksesan dan kemandirian perekonomian Indonesia secara jangka panjang. Tidak disangkal bahwa CPO sebagai salah satu komoditi ekspor andalan telah mampu berkembang diantara berbagai hambatan dalam kebijakan perdagangan di berbagai negara tujuan ekspor. Tetapi tidak menghasilkan nilai tambah yang optimum. Sementara berbagai upaya tetap harus diupayakan untuk menangkal dan mengatasi hambatan di berbagai negara tujuan, peningkatan penggunaan biofuel di dalam negeri akan memperbesar pasar di dalam negeri yang pada akhirnya akan memperkuat daya saing produk ekspor tersebut di luar negeri.

Berapa studi memang menujukan beberapa waktu lalu ketika biaya proses produksi minyak jarak (jatropha) dan biomassa (ellulosic) lebih rendah dari minyak sawit tapi CPO adalah komoditas yang paling siap untuk menjadi biodiesel.

Kita mengharapkan berbagai peraturan turunan yang akan menjadi dasar dan pedoman implementasi dari 8 Paket Kebijakan Pemerintah tersebut menunjukan kesediaan pemerintah untuk memasuki koridor yang memastikan kuatnya motivasi, dedikasi dan pengorbanan dari semua pemangku kepentingan sehigga tujuan nasional yang akan mendorong pertumbuhan perekonomian nasional secara berkelanjutan menjadi kenyataan. Kebijakan penurunan harga BBM di pasar internasional untuk menghapus subsidi pada BBM jenis premium dan  mengatur subsidi tetap pada bahan bakar Biosolar memberikan pemerintah ruang fiskal yang terbentuk dari kebijakan baru tersebut yang diperkirakan mencapai Rp 275 triliun pada tahun 2015 kiranya sebagiannya dapat diarahkan untuk mendorong peningkatan riset, studi, evaluasi, efisiensi yang akan memastikan kemampuan Indonesia untuk meningkatkan penggunaan CPO mencapai 20% dalam komponen bisolar di Indonesia.

Kebijakan pemberian subsidi pada BBM jenis Biosolar sebesar Rp 1,000 per liter tersebut membuka peluang bagi pemerintah untuk menjadikan kebijakan subsidi sebagai salah satu cara mengimbangi celah yang timbul dari biaya produksi biosolar yang masih lebih tinggi disertai dengan target waktu yang jelas sehingga semua elemen pemangku kepentingan akan menutup celah tersebut secepatnya. Jika, Indonesia dianggap menganut kebijakan tax incentive atau tax holiday yang paling pasif di antara negara-negara di kawasan Asean dalam mengundang investor asing, suatu kebijakan insentif pajak bagi pengusaha-pengusaha yang berkepentingan dengan peningkatan penggunaan biofuel di Indonesia dapat menjadi pilihan yang menarik untuk mendorong kebijakan ini demi tujuan jangka panjang, demi tujuan yang lebih besar.

Selanjutnya, kiranya masing-masing komoditas andalan Indonesia mendapat perhatian dan kesempatan nyata untuk meningkatkan proses peningkatan nilai tambah (added-value), mempunyai pasar yang lebih besar di dalam negeri dan memiliki daya saing yang lebih kuat di pasar internasional dan melahirkan  multiflier effect yang akan mempekuat perekonomian nasional. Gabungan dari peningkatan daya saing dan nilai tambah dari masing-masing komoditas andalan ekspor akan berpengaruh signifikan bagi kemajuan perekonomian Indonesia dan kemakmuran bangsa.

Dalam tulisan saya di blog ini pada 15 Januari 2015 yang berjudul PENURUNAN HARGA BBM SEBAGAI AWAL PENINGKATAN KEMANDIRIAN PEREKONOMIAN NASIONAL, Membangun saling ketergantungan berbasis sumber daya alam,  saya mengemukakan pentingnya pengorbanan jangka singkat untuk tujuan yang lebih besar demi keberhasilan yang berkelanjutan dan bahwa slogan dan retorika tidak akan mengatasi masalah. Semoga 8 Paket Kebijakan Pemerintah tersebut benar-benar menggambarkan langkah pasti dan transparan pemerintah untuk mengubah tatanan struktur perekonomian untuk memanfaatkan pasar dalam negeri yang besar kemakmuran sesama.

Indonesia perlu visi yang jelas dan kebijakan yang merefleksikan tindakan nyata untuk mencapainya, berkesinabungan dan melahirkan sinergi yang kuat antar sektor perekonomian nasional. 

Adalah menarik untuk mengkaitkan pemikiran ini dengan isi kolom Editorial Kompas pada 13 Maret 2015 yang berjudul Makna Pemegang Rekor.  Apalah artinya Indonesia sebagai penghasil sawit terbesar di dunia, karet nomor 2 di dunia dan dan sederet daftar panjang pemegang rekor dunia lainnya mulai selain itu, yaitu mulai dari rotan, kelapa, rumput laut, ikan, udang, lada, kopi, teh dan bubur kertas dan lain-lainnya jika kita bukan penentu harga dan daya saing komoditas kita rapuh di pasar internasional serta bila kontribusi nya terhadap devisa nasional masih kecil.

Mari kita tunggu lanjutan dari 8 Paket Kebijakan Pemerintah tersebut.

 

Jakarta, 15 Maret 2015.

 

 

 

 

 

Monday, 26 January 2015

Nasib SPBU Nasional Setelah Subsidi Dicabut

 
Oleh Junaedy Ganie

Bisnis.com, JAKARTA - Memasuki 2015, pemerintah menghapuskan subsidi yang telah diterapkan sejak 1977/1978 pada produk BBM RON 88 (Premium) dan menerapkan subsidi tetap sebesar Rp1.000 per liter untuk produk Biosolar.

Seiring dengan menurunnya harga minyak bumi di pasar internasional, harga Premium turun menjadi Rp7.600 dan Biosolar Rp7.250 per liter dan sejak 19 Januari menjadi Rp6.700 dan Rp6.400. Selanjutnya, harga akan berfluktuasi mengikuti harga keekonomian seperti halnya pada Pertamax, terutama dipengaruhi harga minyak internasional dan kurs dolar AS terhadap rupiah.

Penurunan harga disambut masyarakat dengan gembira tetapi perlu pula diantisipasi dampaknya nanti jika harga keekonomian naik tinggi.

Sementara itu, PT Pertamina (Persero) diberikan batas waktu dua tahun untuk meningkatkan kapasitas dan menjadikan produk RON 92 (Pertamax) sebagai pengganti Premium, sesuai rekomendasi Tim Reformasi Tata Kelola Gas dan Minyak Bumi. Kebijakan ini memungkinkan SPBU asing menjual produk Premium.

Tampaknya, Indonesia sudah di ambang praktik pasar bebas sepenuhnya dalam pemasaran BBM dalam negeri, sesuatu yang ditunggu sejak lama oleh SPBU asing yang masuk ke Indonesia sebagai antisipasi atas penerapan ketentuan UU No. 22/2001 tentang Minyak dan Gas Bumi.

Menurut Pasal 28 ayat (2) UU tersebut, harga BBM dan gas bumi diserahkan pada mekanisme persaingan usaha yang sehat dan wajar, sehingga terbuka peluang bagi pelaku-pelaku usaha domestik dan asing berbisnis distribusi BBM yang sebelumnya dimonopoli oleh Pertamina.

Dengan berjalannya waktu, terjadi beberapa perkembangan seperti pembentukan BPH Migas yang kemudian mengeluarkan cetak biru strategi pengusahaan di industri minyak dan gas bumi yang diadopsi dari UU No. 22/2001, yang memuat tiga tahapan strategi pembukaan pasar BBM dengan tahap pasar bebas terbuka dimulai pada akhir 2010.

Lalu, bagaimana dampaknya terhadap Pertamina?

Nasib Pertamina akan tergantung pada kemampuan 5.300 SPBU nasional memenangkan persaingan pasar bebas. Berbagai pihak mengkhawatirkan kebijakan itu membuka pintu yang selebar-lebarnya bagi pengusaha SPBU seperti Shell dan Total untuk menguasai pasar peredaran BBM di Indonesia, sehingga SPBU nasional akan tersingkir.

Jika kebijakan publik tidak memperhatikan kepentingan nasional, kekhawatiran itu sangat beralasan. Sebaliknya, penghapusan subsidi justru merupakan momentum yang tepat untuk memajukan SPBU nasional untuk kejayaan Pertamina.

Pengalaman ‘Pasti Pas’ selama ini telah mengindikasikan kemampuan SPBU nasional bertransformasi menjadi andalan Pertamina meningkatkan daya saing jaringan distribusinya.

KEBIJAKAN MARJIN

Selama ini SPBU nasional memperoleh marjin pendapatan dari Pertamina dalam jumlah nominal tertentu sebagai imbalan tanggung jawab penjualan. Jumlah itu sebenarnya belum memadai untuk memberikan kesempatan pengusaha SPBU untuk berkembang, padahal usaha ini tergolong usaha padat modal.

Akibatnya, di masa lalu adakalanya terdengar tuduhan tentang segelintir pengusaha SPBU berlaku curang untuk mengejar pendapatan.

Syukurlah, kebijakan ‘Pasti Pas’ dengan syarat-syarat yang berat dan diawasi dengan ketat telah berhasil meningkatkan kepercayaan masyarakat luas terhadap layanan SPBU Pertamina.
Pemenuhan syarat-syarat ‘Pasti Pas’ termasuk persyaratan lulus audit, memerlukan biaya besar. Ancaman pasar bebas dan kesadaran masyarakat terhadap layanan yang berkualitas tinggi menuntut SPBU nasional berbenah diri.

Sayangnya, tuntutan itu belum disertai dengan keberpihakan untuk memberdayakan mereka menjadi andalan Pertamina meningkatkan daya saingnya.

Sewaktu harga BBM dinaikan dari Rp4.500 menjadi Rp6.500 (44,4%) untuk Premium dan Rp5.500 (22,2%) untuk Biosolar, kenaikan marjin pendapatan pengusaha SPBU sangat minim dan bahkan menurun secara rasio. Sewaktu harga Premium dan Biosolar pada 18 Nopember 2014, naik menjadi 31% dan 36,4%, nominal marjin pendapatan SPBU tidak naik sama sekali.

Pengusaha SPBU seolah-olah dituntut ikut berkontribusi mengurangi subsidi pemerintah.

Sementara kenaikan harga mengurangi beban pemerintah secara signifikan, pengusaha SPBU harus mengeluarkan modal kerja lebih besar untuk membeli BBM dengan harga baru dan membayar pajak penghasilan lebih besar.

Sebagian mungkin harus meminjam uang dari bank untuk membiayainya. Belum lagi, dampak kenaikan biaya hidup akibat kenaikan harga BBM dan kenaikan UMR menuntut pengusaha SPBU menaikan upah.

Setelah kenaikan 17% sejak subsidi dihapus, rasio marjin SPBU masih lebih kecil dari pada ketika pemerintah menanggung subsidi besar di masa lalu. Pemerintah belum mendukung Pertamina memberdayakan SPBU nasional menjadi jaringan distribusi dengan kualitas layanan yang tinggi.
Riset sederhana tentang besaran penghasilan bersih sebuah SPBU yang mewakili omzet rata-rata setelah dipotong biaya dibandingkan dengan tingkat investasi dan nilai aset SPBU akan menemukan rasio marjin yang wajar.

Bandingkan dengan marjin yang tinggi yang pernah diterima oleh pengusaha untuk bertindak semata-mata sebagai operator bagi SPBU asing tanpa harus mengeluarkan investasi pembangunan SPBU. Adapun, pengusaha SPBU Pertamina harus membiayai pembangunan SPBU terlebih dahulu.
Hiswana Migas agar terus meyakinkan pemerintah tentang besaran marjin yang pantas untuk SPBU. Pendekatan rasio marjin pendapatan akan lebih tepat mengingat fluktuasi harga.

DUKUNGAN TEKNIS

Pengusaha SPBU nasional pada umumnya tergolong pengusaha UKM dan sebagian besar masih dimiliki oleh pengusaha yang mengelola bisnisnya secara konvensional.
Usaha SPBU yang melibatkan uang tunai dalam jumlah yang besar mengakibatkan banyak pengawas SPBU bukan diangkat karena kemampuan manajemen dan teknis tetapi faktor kejujuran dan loyalitas.

Sementara itu, kualitas layanan SPBU nasional adalah cermin dari daya saing Pertamina. Namun, adilkah menuntut SPBU nasional mampu bersaing dengan SPBU asing tanpa kebijakan yang mendukung sebelum mendorong mereka ke arena pasar bebas?

Sebagai solusi, selain dari marjin yang pantas, dukungan teknis Pertamina secara proaktif akan menjadi daya ungkit dalam daya saing ujung tombak distribusinya terutama pada layanan konsumen,efisiensi operasional dan menghindarkan kerugian ekonomis.

Termasuk pula aspek penyusutan BBM, baik pada saat penerimaan maupun selama belum terjual, karena faktor teknis atau manusia.

Tuntutan dan upaya peningkatan kualitas memerlukan biaya tinggi.

Kuncinya, solusi yang dapat menyelesaikan masalah secara menyeluruh, tanpa merugikan konsumen. Akhir kata, penghapusan subsidi memungkinkan pemerintah menerapkan strategi pembangunan nasional yang terarah. Namun, masa depan Pertamina patut dipertanyakan.

Pertamina akan kalah bersaing jika SPBU nasional tidak didukung penuh untuk mampu bersaing dengan SPBU kelas dunia yang didukung kekuatan modal tanpa batas dan standar layanan yang didukung manajemen dan kemampuan teknis andal.

*) JUNAEDY GANIE, Pengamat usaha SPBU nasional