Friday, 21 April 2017

OJK & Pengawasan IKNB, Bisnis Indonesia 21 April 2017 - Public Policy


Tuesday, 18 April 2017

Siapa (Berani) Mengawasi OJK ? Kontan, 17 April 2017 - Public Policy

Siapa (berani) mengawasi OJK?
Bunyi lafal sumpah atau janji Dewan Komisioner OJK dalam pasal 16 UU No. 21/2011 Tentang Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencerminkan tuntutan yang tinggi terhadap sikap pejabat lembaga independen tersebut. Sesuai bunyi ketentuan tersebut, Dewan Komisioner OJK bersumpah/berjanji untuk tidak akan memberikan atau menjanjikan untuk memberikan sesuatu kepada siapapun, tidak akan menerima langsung atau tidak langsung dari siapapun sesuatu janji atau pemberian dalam bentuk apapun selain dari sumpah/janji untuk melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya dan dengan penuh tanggung jawab.
Sebagai lembaga yang mengatur, mengawasi, memeriksa, menyidik, OJK memang sebuah superbodi. Berdasarkan pasal 49 UU tentang OJK tersebut di atas, selain pejabat penyidik Kepolisian Negara, pejabat PNS tertentu dapat diberi tugas dan tanggung  jawab bidang pengawasan sektor keuangan dan diperkerjakan di OJK dengan wewenang khusus sebagai penyidik sebagaimana dimaksud dalam Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana.
Sebagai lembaga yang mengatur, mengawasi, memeriksa, menyidik, siapa yang mengawasi perilaku dan substansi pengaturan oleh OJK?
Salah satu asas yang menjadi landasan OJK dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya adalah asas profesionalitas, yakni mengutamakan keahlian dalam pelaksanaan tugas dan wewenang dengan berlandaskan pada kode etik dan ketentuan perundangan-undangan dan asas integritas, yaitu berpegang teguh pada nilai-nilai moral dalam setiap tindakan dan keputusan yang diambil.
Berdasarkan pasal 26 UU No.21/2011, untuk mendukung kelancaran pelaksanaan fungsi, tugas dan wewenangnya, Dewan Komisioner membentuk organ pendukung yang mencakup Sekretariat, Dewan Audit, Komite Etik dan organ lainnya sesuai kebutuhan. Sebagai sebuah organ pendukung, organ-organ tersebut sepenuhnya berada di bawah pengawasan Anggota Dewan Komisioner tertentu. Dewan Komisisoner menetapkan dan menegakkan kode etik OJK.
Menurut Peraturan Dewan Komisioner No. 01/17/PDK/XII/2012 Tentang Kode Etik, keanggotaan Komite Etik terdiri atas Ketua, Anggota dan Sekretariat. Terdapat 2 Komite Etik, yaitu Komite Etik level Governance dan Komite Etik level Manajemen. Komite Etik level Governance yang bertugas mengawasi kepatuhan Anggota Dewan Komisioner terhadap kode etik OJK terdiri atas Wakil Ketua OJK sebagai ketua, 2 anggota Dewan Komisioner OJK bidang Audit Internal dan Manajemen Risiko sebagai anggota dan 3 orang unsur profesi/akademisi sebagai anggota dan sekretariat.
Kata “2 anggota Dewan Komisioner bidang Audit Internal dan Manajemen Risiko” tersebut menimbulkan tanda tanya sebab hanya ada 1 Ketua Anggota Dewan Komisioner yang membawahi Dewan Audit. Mungkin maksudnya 2 orang di bawah Ketua Anggota yang membawahi Dewan Audit. Selanjutnya, sebagai sebuah lembaga independen yang mengenakan pungutan kepada lembaga jasa keuangan yang diawasinya apakah pada tempatnya bila pembayar pungutan terwakili dalam Komite Etik?
Komite Etik Manajemen yang bertugas mengawasi kepatuhan pejabat dan pegawai OJK terhadap kode etik terdiri dari Wakil Ketua Dewan Komisioner sebagai ketua, 2 orang Deputi Manajemen Strategis sebagai anggota, dan 3 orang Direktur sebagai anggota dan sekretariat. Pemeriksaan pejabat dan pegawai OJK yang dilakukan oleh Komite Etik level Manajemen, bukan oleh atasan atau pemimpin bidang terkait dapat menjadi contoh bentuk penerapan independensi.

Imunitas Komite Etik
Keberadaan 3 anggota Komite Etik level Governance yang berasal dari unsur profesi.akademisi memperkuat independensi Komite Etik. Namun, untuk menjaga independensi dan mendukung keberanian Komite Etik mengingat sebagian yang diawasi berkedudukan sebagai atasan, perlu dipertimbangkan agar UU No. 21/2011 Tentang OJK memuat ketentuan tambahan yang akan melindungi atau memberikan imunitas kepada Komite Etik terhadap tekanan atau pengaruh yang mungkin timbul dari pihak manapun dalam pelaksanaan tugasnya termasuk jaminan kepastian masa jabatan kecuali dalam hal dapat dibuktikan adanya itikad tidak baik dari tindakannya.
Sepatutnya, kepada Komite Etik level Manajemen juga diberikan perlindungan yang sama mengingat sebagian berkedudukan sebagai bawahan. Sebagai perbandingan, sesuai ketentuan pasal 17 UU Tentang OJK dan bagian Umum Penjelasan atas UU tersebut, independensi OJK tercermin dalam kepemimpinan dan bahwa secara perorangan pimpinan OJK memiliki kepastian masa jabatan dan tidak dapat diberhentikan, kecuali memenuhi alasan yang secara tegas diatur dalam UU tersebut. Salah satu alasan pemberhentian adalah pelanggaran terhadap. Kode Etik. Whistle blowing telah diperkenalkan OJK sebagai salah satu mekanisme penerimaan masukan.
Menurut pasal 15 Peraturan Dewan Komisioner OJK tersebut, putusan Komite Etik merupakan rekomendasi (bukan  final) yang diberikan kepada Pejabat Pemutus, yang didefinisikan sebagai Dewan Komisioner yang berwenang menetapkan sanksi atas pelanggaran Kode Etik. Tampaknya yang dimaksud dengan Pejabat Pemutus adalah Dewan Komisioner tidak termasuk Anggota Dewan Komisioner yang diduga melakukan pelanggaran.
Sesuai dengan asas akuntabilitas, setiap kegiatan dan hasil akhir dari setiap kegiatan penyelenggaraan harus dipertanggungjawakan kepada publik sesuai dengan ketentuan pasal 38 tentang Pelaporan dan Akuntabilitas, UU No. 21/2011, OJK menyusun laporan keuangan dan laporan kegiatan bulanan, triwulanan dan tahunan. OJK wajib menyampaikan laporan apabila DPR memerlukan penjelasan. Sebagai bentuk pertanggungjawaban ke masyarakat, OJK menyampaikan laporan kegiatan triwulanan kepada DPR. Namun, apabila ketidakpuasan konsumen terhadap kebijakan dan tindakan lembaga jasa keuangan dapat diajukan kepada bidang terkait di OJK, kemana lembaga jasa keuangan dan masyarakat mengadu apabila tidak puas dengan OJK? Pintu mana yang harus diketuk sekiranya terdapat peraturan yang dianggap mengandung lebih banyak mudharatnya, apabila masukan langsung ke OJK tidak berhasil? Tugas Komite Etik hanya mengawasi perilaku. Apabila permasalahan diselesaikan oleh DPR, sesuai kodratnya, putusannya dapat bersifat politis.
Saat ini adalah momentum untuk meninjau kembali dan membenahi kekurangan yang ada, mengisi ruang yang kosong berdasarkan temuan dalam 5 tahun pertama keberadaan OJK. Disesuaikan dengan kondisi industri keuangan Indonesia dan kepentingan publik demi memajukan perekonomian Indonesia. Pemangku kepentingan terutama DPR dapat memikirkan jawaban atas berbagai pemikiran dan pertanyaan di atas.  


Wednesday, 15 March 2017

Gelar apakah FCBArb? - Arbitration


Gelar apakah FCBArb itu?

Dr. Junaedy Ganie

Seorang kolega dalam suatu pertemuan pada 9 Maret 2017 lalu bertanya kepada saya gelar apakah FCBArb dan bagaimana memperolehnya dan apa bedanya dengan MCIArb.

Secara kebetulan seorang kolega yang lain menulis dalam suatu media sosial beberapa hari kemudian sesuatu yang sepintas dapat diartikan seperti pandangan yang merendahkan terhadap arti gelar kualifikasi profesional. Terhadap pandangan tersebut saya mencoba meluruskan dengan mengatakan bahwa gelar kualifikasi profesional atau sertifikat keahlian yang dimiliki seseorang adalah suatu yang berharga dan sangat berarti bagi kemajuan karir atau keahlian pemegang gelar dan bagi kontribusi pemiliknya dalam dunia bisnis terkait sepanjang dapat dibuktikan bahwa sertifikasi yang dimilikinya mencerminkan kemampuan atau kompetensi yang bersangkutan. Ternyata yang dimaksudkannya adalah sama yaitu sebagai kritik terhadap situasi apabila sertifikat keahlian dikeluarkan lebih sekedar untuk keperluan pemenuhan persyaratan formal. Tentunya sertifikat demikian tidak akan memberikan pengaruh besar bagi kemajuan industri atau sektor terkait sebab yang diperlukan adalah keahlian, keterampilan yang sebenarnya yang bahkan nilainya dapat lebih tinggi dari sekedar pembuktian melalui perolehan sertifikat.

Menjawab pertanyaan kolega tersebut, saya memulai dengan mengatakan bahwa FCBArb adalah singkatan dari Fellow Chartered BANI Arbitrator. Gelar FCBArb merupakan gelar yang diberikan oleh BANI Arbitration Center kepada arbiter yang terdaftar di BANI yang telah terbukti kemampuannya dalam menangani berbagai jenis penyelesaian sengketa atau arbitrase yang diajukan ke BANI untuk diperiksa dan diputus sebagai putusan tingkat pertama dan terakhir dan mengikat Para Pihak. Selain itu, persyaratan pokok lainnya sesuai Surat Keputusan No. 10.006/I/SK-BANI/PA Tentang Perubahan Peraturan Tentang Sertifikasi Arbiter BANI tanggal 13 Januari 2002,  dan tidak mudah diperoleh adalah bahwa calon pemegang gelar tersebut telah terdaftar sebagai Arbiter di BANI sekurang-kurangnya selama 3 tahun, berpengalaman minimum sebanyak 10 kali bertindak sebagai Arbiter pada persidangan perkara arbitrase yang diselenggarakan BANI dan pernah menjadi Ketua Majelis Arbitrase di BANI sekurang-kurangnya 2 kali. Persyaratan ini bukan merupakan persyaratan yang mudah karena telah membuktikan kepercayaan masyarakat atas kompetensi, kredibilitas dan integritasnya disamping mencerminkan telah adanya kepercayaan yang tinggi diantara rekan sesama Arbiter kepada yang bersangkutan. Disamping itu, Arbiter yang bersangkutan telah membuat karya tulis tentang Arbitrase/ADR baik berupa buku, tesis/disertasi atau tulisan yang dimuat/diterbitkan minimum secara nasional. Persyaratan lainnya adalah bahwa Arbiter tersebut pernah menjadi pembicara/narasumber/panelis/instruktur dalam suatu seminar/pelatihan/workshop tentang Arbitrase/ADR. Dengan demikian, gelar FCBArb merupakan penghargaan yang diberikan lembaga arbitrase BANI atas kemampuan yang teruji dari arbiter-arbiter yang memperolehnya.

Gelar FCBArb bukan sesuatu yang bersifat permanen karena BANI Arbitration Center dapat menarik kembali pemberian gelar apabila dikemudian hari penerima penghargaan tersebut melakukan tindakan yang dianggap tercela menurut standar BANI Arbitration Center atau melakukan pelanggaran terhadap Kode Etik profesi Arbiter.

Lalu apa perbedaannya dengan MCIArb? Saya katakan bahwa gelar MCIArb merupakan suatu gelar kualifikasi profesional bergengsi yang diberikan oleh Chartered Institute of Arbitrators yang kantor pusat di London. Gelar profesi tersebut diperoleh melalui ujian tertulis dan wawancara yang juga tidak mudah. Terbukti terdapat sejumlah orang yang harus melaluinya berkali-kali. MCIArb merupakan singkatan dari Member of Chartered Institute of Arbitrators. MCIArb merupakan kualifikasi yang setingkat di atas Associate of Chartered Institute of Arbitrators (ACIArb). Melalui ujian, pemegang gelar MCIArb dapat meningkatkan kualifikasi profesi dalam bidang arbitrase menjadi Fellow of Chartered Institute of Arbitrators (FCIArb).

Jadi, gelar yang pertama merupakan penghargaan terhadap keahlian yang telah terbukti dalam jangka waktu yang panjang dan penghargaan dari sesama kolega seprofesi sementara yang kedua melalui ujian untuk membuktikan bahwa pengalaman yang dimiliki atau pengetahuan yang dimiliki telah diukur melalui suatu standar internasional dalam bidang arbitrase komersial.

Saya selalu memberi semangat kepada generasi muda untuk melengkapi diri dengan keahlian profesi dengan menempuh pendidikan sehingga dapat mencapai standar kemampuan yang teruji dan dapat membuktikannya dalam kehidupan nyata. Sebaliknya, bagi yang telah berpengalaman, tentunya akan lebih baik apabila memiliki gelar profesi yang dapat pula meningkatkan keyakinan publik dengan adanya pembuktian keahlian seseorang oleh lembaga pendidikan ternama dan adanya standar etika yang harus selalu dipatuhinya.

Jakarta, 15 March 2017 (updated 30 March 2017)

Dr. Junaedy Ganie

Saturday, 11 March 2017

Peran pialang asuransi bagi nasabah dalam klaim asuransi besar akibat bencana nasional - Career in Insurance


Dr. Junaedy Ganie

Dalam kehidupan mungkin kita melalui berbagai pengalaman yang membanggakan yang mungkin menjadi suatu kebanggaan pribadi. Sebagian dari pengalaman tersebut merupakan hal yang baik untuk diketahui umum dan menjadi bagian dari sejarah yang akan memberikan inspirasi bagi masyarakat terutama dari generasi muda.

Dari pengalaman saya pribadi selama menjalankan profesi dalam bidang usaha perasuransian, terdapat sejumlah pengalaman yang mungkin termasuk peristiwa penting  walaupun sejalan dengan perubahan sikap dan kematangan pribadi, kita cenderung menyimpannya sehingga terdapat hal-hal penting yang menjadi tersimpan dalam diri pribadi. Akibatnya, jika di hadapkan dengan pertanyaan tentang pengalaman pribadi yang membanggakan dalam profesi kita, hal-hal penting dapat saja tetap terpendam dan diperlukan pemicu tertentu untuk menggalinya ke permukaan. Apalagi dalam masyarakat yang hetrogen dengan berbagai sikap dan pandangan serta kepentingan, pemaparan mengenai hal-hal seperti itu akan dianggap sebagai keangkuhan, sikap membanggakan diri. Tidak heran jika terdapat hal-hal yang sepatutnya diketahui umum atau menjadi bagian dari sejarah dan referensi dalam sektor bisnis terkait, tetap terpendam.  
Penulisan tentang pengalaman atau kontribusi pribadi tidak luput dari dinamika pertentangan perasaan yang dipicu kekhawatiran timbulnya sifat riak dan takabur.

Dipicu oleh artikel-artikel yang saya tulis belum lama ini tentang perjalanan karir asuransi saya, Dr. Kornelius Simanjuntak, salah seorang tokoh asuransi Indonesia, sebagai ice breaker menjelang pembukaan rapat Majelis Arbitrase Ad hoc pada 9 Maret 2017 dimana kami masing-masing bertindak sebagai arbiter pertama dan kedua, mengemukakan suatu situasi yang sudah sempat terlupakan oleh saya yaitu ketika saya mengemukakan hasrat yang muncul untuk memperdalam pengetahuan tentang ilmu hukum. Hal tersebut terjadi dalam suatu forum diskusi formal dalam upaya mencari solusi penyelesaian klaim kematian dan kerugian harta benda yang sangat besar akibat tsunami di Aceh yang terjadi pada 26 Desember 2004.

Pembicaraan di atas membawa pikiran saya kepada beberapa peristiwa penting dalam bisnis asuransi Indonesia yang layak diketahui umum selain dari solusi penyelesaian klaim asuransi atas bencana tsunami Aceh. Hal-hal tersebut antara lain adalah proses pengakuan keabsahan klaim kerugian akibat peristiwa Kerusuhan 13 – 14 Mei 1998 dan dampaknya bagi Neraca Pembayaran Indonesia, peran Asosiasi Broker Asuransi Indonesia (ABAI) yang sekarang bernama APPARINDO dan perannya dalam membantu pemerintah menemukan solusi administrasif sehingga dapat membuat suatu kebijakan perpajakan yang efektif dalam pembebanan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dalam bisnis asuransi  yang terbukti telah belasan tahun berjalan dengan baik dan memberikan sumbangan berarti bagi pendapatan negara.

Saya sekarang juga ingat bahwa Anie Herawati, yang pernah aktif di ABAI, pada sekitar 2 tahun lalu, dalam salah satu kunjungannya dari Singapura, mendorong saya untuk menulis tentang peran ABAI dalam membela kepentingan nasabah sehingga klaim yang sangat besar tersebut akhirnya diakui sebagai klaim yang sah dan dibayar penanggung dan reasuradur domestik dan internasional serta mendapat dukungan dari Dewan Asuransi Indoenesia yang sebelumnya berbeda sikap. Juga tentang pertemuan di Bina Graha ketika Presiden B.J Habibie memberikan dukungan moral yang tinggi kepada kami untuk bekerja keras membela kepentingan nasabah dan bangsa yang menderita akibat peristiwa besar tersebut.

Saya bermaksud untuk menulis tentang peristiwa-peristiwa tersebut pada kesempatan-kesempatan yang akan datang. Tulisan-tulisan tersebut sekaligus akan menjadi bagian dari materi topik yang akan saya bawakan dalam ANZIIF Members and Students Gathering dari The Australian and New Zealand Institute of Insurance & Finance yang akan diadakan di Jakarta pada 4 April 2017 -  The journey and lessons learnt in my insurance career.

Seperti yang mungkin telah saya kemukakan sebelumnya dalam blog ini, tulisan-tulisan tentang pengalaman pribadi akan loncat dari satu peristiwa ke peristiwa lainnya tanpa mengikuti urutan kejadian.

Jakarta, 11 Maret 2017

Dr. Junaedy Ganie


Wednesday, 8 March 2017

How I got my promotion and started to become an Insurance Expert - Career in Insurance



Dr. Junaedy Ganie

Introduction



This morning on February 28, 2017, Leanne Duong, Regional Manager of the Australian and New Zealand Institute of Insurance and Finance from Melbourne asked if I was interested to talk about my insurance career in a forum planned to be held in the very near future.

The discussion made me realized that my career in the insurance field had reached 39 years on Saturday, February 25, 2017. Coincidently, it was the day I received the good news that I belong to the 35 people who passed the selection process of the selection of Phase II of FSA Board of Commissioners for the 2017-2022period.

Awareness of the anniversary of my insurance career that passed by without knowing it and a couple of previous events have prompted me to write an article about the topic that I think will be interesting and inspiring be known to the public. Coincidentally a few weeks earlier I had a chat about the past with one of the prominent insurance figures in Indonesia, Mr. Frans Lamury, ahead BANI arbitration hearing at the Arbitration Center which was followed by his invitation to the former AIU Reunion on February 4, 2017. At the reunion selected to talk about my AIU experiences a topic to share.

This is the English version of the article I wrote and published earlier in Indonesian Language.



HOW I GOT MY PROMOTION AND STARTED TO BECOME AN INSURANCE EXPERT



After a period of 1year as an insurance agent at AIA (B), from February 25, 1978 to February 24, 1979, I changed profession to be a salaried employee at the same company. Through a rather complicated and exciting process, I was accepted as Sales Representative of Employee Benefits under Mrs. Henny Budiman, the manager at the Department named Group Department. I underwent a process of self-maturation in term of being independence, acquisition of new insurance skills, sales of different products and conducted mentoring for two fellow Sales Representatives who joined later, namely Charlie Mochtan (deceased) and Afiat Djajanegara and another colleague who did not stay for long. 



Being impatience and highly ambitious made me unsatisfied with my career progress. It encouraged me, at the age of 24 years, to talk heart to heart with Mrs. Budiman asking whether I had acquired sufficient skills to become an Assistant Manager or Sales Supervisor. Had I not met the requirements, I would still want to know what more I should prepare. It turned out I had to face the reality that I was considered unqualified to get the promotion I wanted.



While continuing to improve sales performance, I constantly found ways to get my career promotion. One year later, after the Group Department relocated to join AIU office, Robert Teguh (deceased), whom I respected highly for his indepth insurance knowledge promoted as Vice President Director, the opportunity arose.  Bob, for short, was a Production Manager at AIU, a sister company of AIA. Bob also acted as Engineering Underwriting Manager primarily for Boiler & Machinery and Contractors All Risks / Contract Work. Holding the courage that might be considered overly ambitious, I targeted the position Bob left. 25 years of age, equipped with formal education of nothing more than having completed freshman level at the Faculty of Economics, University of Sriwijaya in Palembang, 3-year work experience in my belt, including 1 year as an insurance agent and only knew Personal Accident and Employee Benefits Insurance. What shall I do?



AIU Indonesia back then was headed by Manuel Juarez, also known as Manny, a tall and big red Indian American. I concluded that I had to shoot to the top and went straight to Manny to offer myself to replace Bob! When the opportunity arose, Manny was of course caught in big surprise by my desire and even said: "How can I give the job to you. You are just familiar with personal accident and employee benefits insurance only and may be a little motor vehicle insurance and fire insurance for dwelling houses. You know, as Production Manager, Bob was responsible for sales of all types of insurances including new products and the ones not widely known such as Professional Indemnity, Political Risks and Directors & Officers Liability Insurance". His reaction was anticipated and understandable. The answer did break my determination to state the case as to why I deserved that responsibility and that Manny would never regret building on me. In short, the conversation in Manny’s office lasted until about 4 hours and yet I had not able to convince him. However, I still believed I would get the job. Exactly a week later, Manny called me into his office and said that he was still not sure that I was qualify for the job, Moreover, he said that holding concurrent position as an Engineering Manager would make it tricky bearing in mind Bob was an engineer graduated in Australia while I might have never seen foundation works of a building under construction  and would not know what a boiler would look like.



At that point, I told Manny that I really wanted the job because it would give me the best access to all kinds of knowledge and expertise in general insurance. I finally offered that I would do the same job as a Production Manager while my title would simply be as an Assistant Manager. To further convince him that I was a fast learner so that I would be able to pursue the necessary knowledge base in a short span of time, I told Manny: “Give the job to me and as an undertaking I will submit a letter of resignation from the Employee Benefits Department and in return please give me from AIU a new Employment Letter with a 3-month probation period”. I further said "You will not lose face if I do not pass the probation because you will only lose a failure” What happened? I got the job, reported directly to Robert Teguh, Vice President Director of the company. What a great opportunity to learn directly from the master. Alhamdulillah.



Thereafter, during the first 3 months, almost every night I went home at after  21:00. At one ocassion, Herman Tuwaidan (deceased), one of the respected leaders of the Indonesian insurance industry at the time and former General Manager of AIU, before being replaced Manny, surprised to find I was still reading with thick client files spreading on my table at 11.00 at night under the dim lights, "Do you have cat's eyes"?, he asked. From this process, I gained in depth understanding of most of the profiles and  the type of coverage and the dynamics of AIU’s corporate clients kept in long row of dozen of filing cabinets in the office at 10th floor of the unique inverted pyramid shape like building known as Wisma Hayam Wuruk. The rest, beyond carrying out my routine tasks, from morning till evening I "interrupted" all department managers especially Herman Effendi (Fire Manager), Bambang Ambardy (Casualty & Marine Manager) assisted by Pius Tapoona and Yvonne Lontoh, Denny Awuy (Automobile Manager) and occasionally with late I.B. Siregar, Claim Manager assisted by Nannie Dwimarksono and Agus Riyanto. I learned a lot from them and completed the 3-month probation.



On Boiler & Machinery insurance, I reported to James Hooper, Regional Manager of AIU located in Manila before relocated to Melbourne. For Contractors All Risks/Contract Works, I reported to D. C. Chan, Regional Manager, based in Hong Kong. D. C. later replaced by Dorian Grey when D. C. received a promotion as a Contract Works Manager at AIG headquarters in New York. I learned and gained a great deal, especially from James Hooper and Dorian Grey. Both invested a lot of their valuable time educating me directly on one to one basis. The business model adopted by AIU of having only one line underwriting manager for each type of product required me not only to serve existing clients and direct accounts and agents, I had to deal with and served inquiries from the demanding and some international insurance brokers. In fact, when one day I decided to leave AIU to become Underwriting Manager for Property and Special Risks at Cigna Indonesia when it was called Afia Indonesia, James Hooper made a special visit from Melbourne to Jakarta. He said. “Your training had not been completed and let us use the next few days to finish it so that I would be proud of you out there as my protege”. Thank you James, Dorian. By the way, Regional Manager of Cigna who approached me from Singapore to offer me a new job knew me from Manny. Cigna knew me from Manny after he had moved to an insurance broker in Singapore, a solid evidence that Manny was proud of my accomplishments in AIU.



Episodes with Manny Juarez is still unfinished. I will write on another occasion about how I received a scholarship from the AIU to continue my studies at the Faculty of Economics.



Jakarta, 28 February 2017

Dr. Junaedy Ganie

Sunday, 5 March 2017

Journey to my first professional qualification - Career in Insurance


Journey to my first professional qualification
Dr. Junaedy Ganie

I am very colourful in term of the number of professional qualifications under my belt. However, I have an interesting story to share on how I gained my first qualification.
In general insurance, I am a Fellow of the Australian & New Zealand Institute of Insurance & Finance, a Certified Insurance Professional from the same Institute, a Fellow of the Indonesian Insurance Institute (AAMAI) on honoris cause basis. 

In the life insurance and financial sector, I am a Chartered Life Underwriter and Chartered Financial Consultant.
Being an Arbitrator, I could not resist pursuing professional qualifications in arbitration to match and support my vast practical experiences. Toward end of 2016, I earned my Fellow BANI Chartered Arbitrator recognition and then passed the exam from London based Chartered Institute of Arbitrators to earn my Member of the Chartered Institute of Arbitrators qualification.

However, how did I earn my first professional qualification? It was with the New Zealand Institute of Insurance (NZII), well before it merged with the Australian Institute of Insurance to become what it is today, The Australian & New Zealand Institute of Insurance & Finance.
I took the distance learning and tutorial from NZII. The Institute provided once a year examination held in Jakarta under the supervision of the local examination centre organized in cooperation with the executives of Asuransi Inda Tamporok, a New Zealand Insurance Joint Venture in Indonesia. I recall that Arizal was the first AIINZ designation holder followed by Ketut Swastika, both were respectively the General Manager and marine manager there, Arizal later became the Managing Director of the company.   They took a few expatriates working in the insurance business in Indonesia with ACII qualification the like of Bernard Sheriff, Edward Nugent and a few Indonesians who were either earlier holders of ACII designation or still taking the courses in UK to supervise the examinations. All exams was on essay basis and result of completed papers/home works counted 30% toward the pass mark.

I sat for the exam for first time in 1987 when I was working for IBS. I took 3 subjects and passed all subjects. In the following year, I took 4 subjects and likewise I passed all. In third year, in 1989, with 5 out of 12 subject left to obtain my AIINZ professional qualification, I took all 5 and determined to complete all the subjects and set a record to earn the qualification in 3 years.  
The first examination days went well and I thought I performed well. It turned out that the night before the last day was the night of the arrival of our second child and first baby boy which was rather prematurely at Pondok Indah hospital. Nevertheless, I was all set for the exam and just stayed on at the hospital, with a few hours before the exam, admiring and looking after our baby boy. At about 1.00 pm, an hour prior the exam to take place, I arrived at Tugu Pratama’s hall fully prepared for the test only to find that the room was empty. Deserted. Nobody was there. It was not the age of mobile phone so I rushed to ask of what happened and learnt that the exam was held in the morning! I was very disappointed and could not accept it even though it was nobody’s mistake but mine. I immediately went to the office of Inda Tamporok and met with Kevin Horrack, a New Zealander who worked there and asked him to make call to New Zealand to ask for exemption to sit for the exam under his supervision. Unfortunately, the response was negative and he told me, “I know who you are but regrettably they told me they would not make precedence and you would have to take another one next year”. I, being a hard headed and of a persistent personality, insisted to him to give me the exam paper and be allowed to sit for the exam and let the people in Wellington to decide whether or not my paper would be accepted. He concurred with me.

Unfortunately, when the assessment was returned some weeks or a few months later, I passed all except the one I took in the last day. I had got 11 out of 12 subjects completed. It would be understandable if I did not perform well given the situation immediately prior to the exam. I would have to understand if the Institute did not want to allow me to set a precedence of taking it beyond the set time table. Somehow, I could not accept it and decided not take another exam the following year and the following year and the following year for 3 years in a row. Then, I had to face reality when, like or not, under the new insurance regulation following the enactment of Law No.  2 Year 1992, the government started to made insurance professional qualification to be mandatory requirement to hold certain technical positions. I came to point that I had no choice but to take the exam and with only one subject to pass, NZII exam was the fastest route to meet the local requirement.  I managed to make peace with myself and sat for the exam and passed and finally earned my Associate of the Insurance Institute of New Zealand (AIINZ) designation. I can recall that Ketut Swastika called me to congratulate me for completing the study and said, “It is great that we now have you among our members”.  It turned out that during the period of my disappearance, NZII still had not produced any new graduate after Arizal and Ketut and I happened to be its third graduate in Indonesia. 
Given my standing in the local market and the benefits it gave me, I felt that it was as good as it was to me as it was to NZII to have me as one of its members to attract other Indonesians to study from NZII. The uncertainty whether the government of Indonesia would recognise the overseas qualification to be in compliance with the legal requirement was clear with NZII qualification was recognised and since then more and more students took NZII exams in Indonesia. This qualification was later converted into Senior Associate of Australian and New Zealand Institute of Insurance and Finance designation following the merger of New Zealand Insurance Institute with the Australian Insurance Institute. In total, it took me 7 years to complete including the 3-year absence without leave notice while I could have taken only 3 plus 1 year should I be more thoughtful and be wiser. A lesson learnt.

If we compare with the current practice following the implementation of Recognition of Prior Learning (RPL), it was indeed a different world.

Jakarta, 5 February 2017

Dr. Junaedy Ganie




Friday, 3 March 2017

Aneka warna kehidupan Agen Asuransi - Career in Insurance



Dr. Junaedy Ganie

Seri: Memorable Experiences in my insurance career
Pengantar

Sebagaimana telah diungkapkan dalam seri sebelumnya, permintaan dari suatu lembaga pendidikan di Australia dan rangkaian peristiwa sebelumnya telah melahirkan semangat yang tinggi kepada saya untuk menulis tentang riwayat hidup saya. Semoga anda menikmati atau paling tidak melihat manfaat dari ungkapan saya berikut di bawah ini. 

A FULL AND COLOURFUL LIFE
Pilihan saya memilih ilmu dibanding uang sebagaimana saya ungkapkan dalam seri sebelumnya membawa saya pada berbagai konsekuensi yang saya harus tanggung, sebagian tidak saya antisipasi sebelumnya. Pencapaian dalam memenangkan nasabah secara group besar seperti President Taxi tanpa saya sadari juga membawa pola pikir saya lebih tertuju untuk berkonsentrasi pada upaya memperoleh nasabah group saja. Namun, dengan hanya mengandalkan satu produk asuransi kecelakaan saja, pilihan menjadi terbatas. Kehidupan agen-agen senior juga tidak memberikan keyakinan kepada saya tentang masa depan sehingga saya telah memutuskan untuk meningkatkan pengetahuan ilmu asuransi sementara timbul keinginan untuk menjual group insurance atau Employee Benefits saja. Saya melihat bahwa Group Department yang dipimpin oleh Mrs Henny Budiman di gedung sebelah di perusahaan yang sama merupakan pilihan yang tepat.


Untuk mendekati langsung Mrs Budiman saya belum punya nyali. Saya memutuskan untuk melakukannya secara tidak langsung melalui John Delhaye, akuntan di AIA yang telah mengenal saya dengan baik.  Alhasil, keinginan saya di terima oleh Mrs Henny Budiman dan saya dapat mulai bekerja pada tanggal 25 Februari 1979, persis 1 tahun dari awal saya bekerja sebagai agen. Ternyata, Mrs Henny Budiman harus “membayar” cukup mahal. Captain Shane Miao tidak dapat menerima Group Department memperkerjakan saya. Karena dianggap telah membajak saya, saya mendengar dari Capt. Miao bahwa Mrs Budiman harus menandatangani surat pernyataan untuk tidak akan pernah lagi merekrut orang yang bekerja sebagai agen AIA(B).

Belajar displin dan kerjasama tim
Selain belajar tentang jenis asuransi baru, yaitu Asuransi Jiwa Kelompok, Asuransi Jaminan Pensiun (Endowment) dan Asuransi Kesehatan (Group Medical Insurance) dan menjualnya, saya belajar tentang leadership, salesmanship dan pengalaman menjual kepada orang-orang yang mengambil keputusan untuk karyawan-karyawan, bukan untuk diri sendiri lagi, mentoring dan bekerja secara teratur rapi berurutan. Disana saya juga menyadari saling ketergantungan masing-masing karyawan terhadap rekan yang lain. Saya masih ingat Wicky Awuy yang bekerja di bagian Underwriting akan menagih dan meledek saya, “You are making me unemployed if you do not bring me more prospects’ data to work on”. Dia bertugas menghitung premi dan persyaratan penawaran untuk masing-masing prospek. Karyawan-karyawan administrasi ikut mengejar orang sales jika mereka menjadi tidak sibuk. Waktu itu saya orang sales representative kedua karena sebelum saya terdapat Johan Pitoy telah beberapa tahun disana sebelum saya sebelum 3 rekan baru bergabung dan Johan Pitoy keluar.

Mrs Budiman benar-benar mengelola department dengan rapi dan memberikan kepercayaan dan meletakan banyak harapan pada saya dan Richard Tan, Regional Manager yang datang dari Singapore sekali-sekali, mereka berdua memperkaya wawasan saya. Tapi yang saya hendak berbagi disini adalah tentang beberapa hal lain yang lebih menarik dari sekedar pekerjaan.

Skuter baru saya
Sebagai bagian dari paket employment saya, saya mendapat inventaris sebuah skuter baru berwarna biru abu-abu yang merupakan warna paling umum dari scooter. Pembeliannya persis ketika datang model terbaru, yaitu skuter yang mempunyai lampu sen (sign), pertama di Indonesia. Bangga sekali rasanya mengendarai kendaraan tersebut apalagi jika harus berbelok karena saya punya lampu sen orang lain belum !

Sebagai orang yang mengutamakan keselamatan, saya melengkapi diri dengan helm  yang memiliki tutupan mata ketika orang-orang lebih banyak yang tidak peduli dengan helm dan ketika peraturan “helm wajib” belum terpikirkan, jaket tebal untuk menahan angin, cover depan motor untuk menahan terpaan angin dari depan, jas hujan panjang. Cukup tempat di skuter menyimpan semuanya.
Suatu hari, menjelang lampu merah Kuningan dari arah Pancoran saya ragu antara berhenti atau terus karena lampu mungkin masih kuning. Di tengah perempatan, saya menyadari adanya polisi di pos nya sehingga saya gugup dan terjatuh sendiri dari skuter saya. Malunya itu lho. Pak polisi mungkin karena tahu saya sudah menyadari kesalahan sendiri membiarkan saya berlalu. Ternyata sikut saya berdarah dan saya memutuskan untuk berobat ke RS Jakarta. Begitulah sejarah bekas luka di sikut yang sedikit menonjol. Kejadian tersebut sering menjadi bahan cerita berulang-ulang setiap kali anak-anak kami meminta cerita tentang bagaimana ayah mereka mendapat bekas luka di sikut.

Skuter tersebut juga berjasa untuk mengajak jalan-jalan, Hendarwan mantan room mate saya sewaktu di Sydney jika dia datang ke Jakarta. Bahkan, Ridu, seorang teman sekampung yang kemudian menjadi walikota Lubuk Linggau 2 masa jabatan, masih bernostalgia belum sebulan lalu sewaktu berkunjung ke rumah tentang jasa skuter tersebut sewaktu dipinjamnya membawa calon isteri jalan-jalan di Jakarta atau tentang bagaimana kendaraan tersebut mogok pada malam hari sepulangnya saya menemani dia mengunjungi seorang kerabat yang telah menjadi direksi BUMN besar. Masalahnya, kerabat tersebut tidak bersedia keluar menemui kami dan lalu skuter yang masih baru tersebut mogok pula di jalan gelap……  
Honda Life


Sebagaimana manusia biasa kita tidak pernah puas. Setelah berbahagia dengn sebuah skuter baru, timbul tuntutan untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik. Saya mengharapkan sebuah kendaraan yang dapat melindungi kepada dan badan dari teriknya matahari dan curahan hujan. Singkat cerita, setelah melalui proses lumayan alot, Mrs Budiman mengizinkan saya mengambil pinjaman untuk membeli sebuah kendaraan kecil, Terima kasih, Bu. Honda Life bekas yang memiliki kapasitas 500 cc terbeli sudah.

Saya punya berbagai cerita menarik tentang kehidupan dengan Honda Life yang saya beri nama Hoya tersebut yang akan saya tulis pada kesempatan yang lain. Yang pasti, ketika itu saya tidak berani mengendarai Hoya melalui jalan tol Jagorawi karena saya khawatir mobil saya akan terhempa oleh angin kencang dari bis-bis besar yang ngebut di jalur sebelahku.

Financial
Perubahan dari kehidupan sebagai agen yang banyak uang, perpindahan menjadi karyawan membawa konsekuensi yang saya harus jalani. Sebagai sales representative saya menerima gaji bulanan sebesar Rp 150.000 dipotong pajak Rp 9.000 sehingga memiliki take home pay sebesar Rp 141.000.- Adalah merupakan gaji yang tergolong tinggi karena Roland Mirsjah, underwriter di PA Department bilang gaji net nya Rp 95.000 padahal dia bekerja dengan kualifikasi sebagai sarjana muda dan hampir memperoleh gelar sarjana ekonomi.

Permasalahannya, saya harus membayar biaya kos termasuk sarapan dan makan malam sebesar Rp 40.000.- per bulan dan yang paling berat adalah angsuran Honda Life Rp 100.000 sebulan sementara bonus produksi diterima 3 bulan sekali. Jadi, pada tanggal gajian saya hanya memiliki sisa uang Rp 1.000, sekedar cukup untuk membeli gado-gado untuk makan siang. Bagaimana saya menjalani kehidupan di hari-hari selanjutnya? Dari mana uang untuk makan siang, sabun, odol dan macam-macam lainnya? Ternyata dimana ada keinginan disana ada jalan yang bisa sangat menarik dan menantang dan memperkaya warna kehidupan dan menimbulkan rasa syukur yang mendalam. Saya akan menulisnya pada kesempatan yang lain. Nothing is impossible to a willing heart.

Berpikir keluar dari Group Department
Sebelum memperoleh kesempatan untuk menawarkan diri kepada Manny Juarez, karena tidak berhasil mendapat promosi di Group Department seperti yang telah saya ceritakan dalam episode sebelumnya, saya mencoba melakukan pendekatan dan negosiasi dengan Asuransi Nugra Pacific, Asuransi Multi Arta Guna di awal pendiriannya dan bahkan dengan Asuransi Ikrar Lloyd. Namun karena hal-hal yang akan saya kemukakan di kesempatan yang akan datang, saya tetap di Group Department.

Namun pemicu yang membuat keinginan untuk mencari tempat baru memuncak, the straw that broke the camel’s back, adalah tertunda lalu batalnya rencana training saya di Singapore. Sehingga saya merasa kesempatan menimba ilmu tertunda.

Jakarta, 3 Maret 2017

Dr. Junaedy Ganie

Perjuangan dan terobosan di awal karir sebagai agen asuransi AIA - Career in Insurance


Nothing is impossible to a willing heart  

Dr. Junaedy Ganie


Pengantar - Seri 2: Memorable events in my insurance career.


Tulisan ini terbit pada urutan kedua walaupun sebenarnya urutan pertama dalam karir asuransi saya. Inisiatif penulisan dipicu oleh permintaan dari Leanne Duong, Regional Manager dari The Australian & New Zealand Institute of Insurance & Finance untuk berbicara tentang perjalanan karir asuransi saya sebagai topik materi yang akan saya sampaikan dalam pertemuan anggota pada awal April nanti yang diharapkan inspiratif bagi anggota-anggota yang lain.

Menoleh ke belakang, perjalanan karir saya, baik dalam bidang asuransi maupun bukan, memang penuh warna yang terus berlanjut dan memperkaya pengalaman kehidupan saya sebagai insan ciptaanNya. Suatu proses yang telah dimulai sejak awal karir asuransi sebagaimana yang saya tulis di bawah ini. Semoga bermanfaat dan bersifat inspiratif bagi sebagian pembaca dan lingkunganya.




MENJADI AGEN ASURANSI KETIKA ASURANSI MASIH DIANGGAP TIDAK PENTING


Salah satu hal yang berpengaruh besar dan memberi warna kepada kehidupan saya selanjutnya sewaktu saya tinggal di Australia selama sekitar 2 tahun pada pertengahan tahun 70an adalah lahirnya kekaguman saya terhadap kemajuan bisnis asuransi dan bagaimana perannya bagi masyarakat. Dengan latar belakang kehidupan sebelumnya sebagai seorang mahasiswa di Palembang dan pandangan masyarakat Indonesia pada umumnya ketika itu yang menghindari sosialisasi dengan agen asuransi sebab takut di “tawari” polis asuransi, pengalaman di Australia tersebut membuka wawasan baru bagi saya. Rasanya ketika itu senang sekali melihat gedung-gedung tinggi di Sydney yang ada nama-nama perusahaan asuransi di atasnya dan yang paling berbekas adalah Royal Insurance yang berasal dari Inggris.


Tanpa saya sadari setelah berdiam di Jakarta, iklan lowongan kerja yang paling saya cari adalah bidang asuransi dan iklan lowongan asuransi yang pertama saya lihat membawa saya bekerja pada suatu perusahaan baru yang bernama PT Asuransi Indonesia Amerika Baru (AIAB) yang merupakan joint venture dengan American International Assurance dari AS, selanjutnya saya singkat AIA(B). Ternyata AIA(B) merupakan sebuah perusahaan yang baru berdiri yang mencari agen asuransi. Sebagai seorang yang dari kecil dididik orang tua untuk berjualan dan bahkan semasa SMA telah diikutkan menjadi mitra kolega-kolega ayah melakukan jual beli mulai dari buah durian sampai kerbau hidup yang di jual ke kota, entah bagaimana, saya sangat percaya diri bahwa saya juga akan bisa menjual asuransi.


AIA(B) yang hanya memiliki dan menjual produk Asuransi Kecelakan Diri saja. Hal tersebut membuat saya semakin yakin bahwa produknya akan mudah dipelajari dan merupakan produk yang dibutuhkan masyarakat. Alhasil saya melalui pelatihan selama 1 minggu dan siap di kirim ke lapangan untuk berjualan. Apa yang kami jual? Tidak lebih dari produk asuransi kecelakaan lalu lintas yang harganya Rp 1.000.- per 6  bulan untuk produk yang bernama 202 dan Rp 2.000 untuk 404. Masing-masing memiliki manfaat santunan kematian sebesar Rp 1,000.000 dan Rp 2.000.000 dengan biaya pengobatan karena kecelakaan sebesar 10% nya. Dengan modal tersebut, kami para agen pemula digabungkan ke dalam beberapa sales team yang sudah ada. Masing-masing tim dipimpin oleh agen  senior dengan titel jabatan Sales Manager. Saya menjadi anggota tim yang dipimpin oleh Imam Sutopo yang biasa dipanggil Mandor.


Sebagai agen remunerasi kami adalah komisi, tidak menerima gaji kecuali tunjangan transportasi jika mencapai target penjualan minimum.

Berjualan di Tanjung Priok dan bertemu seorang Jenderal Polisi.

Mandor mengantar saya pada hari pertama ke lapangan dengan skuter nya. Ternyata saya di antar ke daerah perkantoran di Tanjung Priok, sebuah daerah baru bagi saya. Setelah melihat dia melakukan presentasi satu kali saya dilepas untuk memulai langkah yang kemudian menjadi awal yang baik bagi saya. Dengan teknik door to door dan bergerak dari meja ke meja dari kantor ke kantor dan sales talk yang diajari selama seminggu tersebut, rasanya saya gagah dan akan mampu menjual. Captain Shane Miao, seorang pensiunan mariner AS, warga negara Taiwan yang dikirim mengomandani AIA(B) memang memiliki kharisma dan kemampuan tinggi dalam memberi motivasi tinggi dan kepercayaan diri kepada para agen.

Setelah berhasil mengantongi penjualan sebanyak 2 polis 202 dan 1 polis 404 dengan success rate 60% pada pagi itu, keyakinan diri semakin mantap dan membawa saya mengetok sebuah pintu kantor yang bernama Samudera Perdana. Belakangan saya ketahui bergerak dalam bidang trucking atau pengangkutan darat Jakarta – Surabaya dan anak perusahaan dari Samudera Indonesia yang bergerak dalam bidang perkapalan. Belum berhasil menjual di lantai 1 saya naik ke lantai 2 yang ternyata merupakan lokasi kantor bos besarnya. Entah bagaimana kejadiannya, sekretaris yang saya temui di atas setelah mendengar tujuan saya mengatakan bahwa dia belum pernah mengizinkan agen asuransi menemui bos nya tapi dia akan memberikan saya kesempatan. Mungkin dia kasihan melihat saya yang kurus dengan raut muka sangat berharap. Di dalam, saya diterima oleh Bapak Koeswandi yang ternyata setelah melihat kartu namanya adalah seorang Brigadir Jenderal Polisi yang menjabat sebagai Deputi Operasi Kapolri. Setelah mendengar presentasi saya yang dengan “teganya” menawarkan nilai pertanggungan asuransi kecelakaan lalul intas sebesar Rp 1.000.000 dengan alternatif Rp 2.000.000.- kepada seorang perwira tinggi polisi, Pak Koeswandi menanyakan apa ada produk yang bukan hanya menanggung kecelakaan lalu lintas saja. Dengan lugu saya menjawab bahwa saya masih harus melakukan penjualan 202 dan 404 selama 2 minggu baru berhak mengikuti pelatihan produk lain. Beliau dengan bijak mengatakan silahkan datang lagi nanti setelah selesai training produk baru. Saya keluar dengan rasa penuh syukur yang bahkan membuat mata saya berair tanpa bisa di tahan ketika menulis bagian ini sekarang. Terima kasih Pak Koeswandi.

Sekembalinya dari Australia dan memulai bekerja sebagai di AIA(B), saya menumpang tinggal di rumah kerabat di Kebayoran Baru, yaitu Ibu Siti Bambang Utoyo yang bersuamikan Major Jenderal (Purn) Bambang Utoyo, yang kemudian menjadi Letnan Jenderal anumerta, mantan KSAD dan sebelumnya Pangdam Sriwijaya. Saya kira lingkungan yang baik tersebut yang membuat saya terbiasa membantu melayani berbagai tokoh nasional seperti Bapak Ali Sadikin, Jend. Polisi Hasan, Bapak Emil Salim, Bapak Jaksa Agung Sugiharto dan lain-lain untuk berbagai keperluan dalam berbagai acara pertemuan yang rasanya memang sering dilakukan di rumah tempat saya menumpang tersebut membuat saya dapat melakukan interaksi yang baik dan dipercaya oleh Pak Koeswandi.

Hari itu saya pulang ke kantor AIA(B) yang terletak di Jalan Dr. Sahardjo, Tebet,  dengan 5 polis yang laku. Ternyata hari itu saya menjadi Top Producer urutan ke 2 atau ke 3. Seingat saya urutan pertama adalah Glen Muskita, yang rasanya tidak aneh jika melihat latar belakangnya dan satu lagi Ichsan Darmadi. Sore itu, Indradjit Sumarto, Department Manager setelah mengetahui hasil penjualan saya hari itu menyambut saya dengan mengatakan: Oi, ruponya kau ini pengen cepat kayo yo” dalam bahasa Palembang karena dia dan orang tuanya juga pernah tinggal di Palembang.


SAMUDERA PERDANA

Dua minggu kemudian saya mengikuti training lanjutan untuk asuransi kecelakaan diri yang lebih lengkap. Pada hari pertama setelah selesai training, dengan penuh semangat saya berangkat ke Tanjung Priok untuk menemui Pak Koeswandi. Ternyata yang beliau perlukan adalah penutupan asuransi kecelakaan atas semua supir-supir truk Samudera Perdana yang bolak balik Jakarta – Surabaya dengan syarat saya harus menjelaskan langsung kepada supir-supir tersebut dan premi ditanggung sendiri oleh masing-masing supir. Dimana pool truk-truk tersebut? Ternyata di Plumpang yang saat ini rasanya sangat jauh dan sepi. Saya menerima tantangan tersebut. Keesokan harinya pagi-pagi buta saya berhasil sampai di Plumpan, Dengan berdiri diatas meja, saya memulai aksi menawarkan asuransi kepada supir-supir di lingkungan pool kendaaraan mereka dalam cahaya temaram di alam terbuka dengan modal sebuah alat pengeras suara yang disediakan disana. Ternyata, banyak supir yang antusias mendengarkan dan kemudian mengikuti polis asuransi sukarela tersebut dan polis mereka terus berjalan bahkan setelah saya keluar kemudian dari keagenan. Sebuah modal awal yang besar bagi saya memperoleh fixed income setiap bulan dari komisi yang dihasilkan. Namun mengingat nilai premi yang sangat kecil, komisi bulanan juga masih sulit untuk memenuhi kebutuhan pokok kehidupan di Jakarta. Apalagi, selain dari premi dari Samudera Perdana, sifat perolehan nasabah baru yang tidak pasti di tengah masyarakat yang masih jauh dari memikirkan kebutuhan asuransi, sebagai agen dari perusahaan asuransi baru, tantangan yang kami hadapi di lapangan sangatlah berat.  


MEMBUAT TEROBOSAN BAGI PRESIDEN TAXI

Keberhasilan menutup asuransi kecelakaan untuk supir Samudera Perdana melahirkan inspirasi baru bagi saya untuk mencari kesempatan yang lebih besar. Perjalanan bolak balik ke Tanjung Priok dan Plumpang melalui Jalan By Pass A. Yani melahirkan ambisi untuk menutup asuransi kecelakaan atas supir-supir President Taxi yang pool armada dan kantor nya terletak di By Pass tersebut. Saya membayangkan besarnya fixed income saya nanti jika berhasil menutup asuransi seluruh supir-supir armada taxi terbesar di Indonesia tersebut.

Saya memulai dengan berkunjung ke kantor President Taxi untuk melakukan riset tentang program apa yang telah mereka miliki dan apa kesulitan-kesulitan mereka. Dalam kunjungan-kunjungan saya kesana, saya berkenalan dengan Andy Melkan yang merupakan staff administrasi Departemen Asuransi dan Albert Pitalis, supervisor pada departemen tersebut. Jauh kemudian hari, Andy Melkan menjadi sahabat akrab saya hingga kini sehingga kami memiliki hubungan seperti saudara dekat. Dari keduanya saya mengetahui bahwa mereka memiliki beban administrasi yang berat dalam program asuransi yang ada karena supir-supir selalu berganti dan bertambah dan jika terlambat dilaporkan ke penanggung, klaim akan ditolak. Asuransi kecelakan supir-supir President Taxi telah lama ditutup pada Asuransi Bumi Asih Jaya. Bagaimana caranya mengalahkan Bumi Asih Jaya?

Saya harus menemukan cara mengurangi beban adminstrasi mereka dan menawarkan program yang lebih kompetitif. Melalui beberapa diskusi dengan Indradjit Sumarto, Manager dan bos besar di AIA(B) di bawah Capt. Miao, kami menyimpukan bahwa administrasi penutupan tidak boleh lagi dengan mendaftarkan nama-nama supir tetapi cukup dengan nomor plat atau nomor polisi taxi saja. Siapapun yang mengemudi akan dijamin sepanjang memiliki KPP atau Kartu Pengenal Pengemudi. Hal ini berarti pertanggungan akan terbatas kepada kecelakaan kerja saja (work-related accident) termasuk selama supir pergi dan pulang kerja dan semua kegiatan terkait dengan operasional taxi. seperti ganti ban dan berhenti untuk makan siang atau sholat. Entah apakah program yang bernama Astek (kemudian berganti Jamsostek) sudah ada atau belum ketika itu. Dengan konsep tersebut, kami dapat menawarkan premi sekitar 20% - 30% dari yang mereka bayar ke Bumi Asih Jaya. Kekhawatiran Capt, Miao bahwa program tersebut akan merugikan AIA(B) berhasil kami atasi.

Dengan program yang segitu bagus, siapa yang tidak akan tertarik? Namun, tunggu dulu…. Departemen  Asuransi President Taxi dikepalai oleh M. O. Sihombing sebagai Manager Asuransi dan Direktur Operasional nya adalah Ernest Siahaan sedangkan Bumi Asih Jaya dipimpin dan dimiliki oleh Sinaga. Bagaimana mungkin saya dapat mengalahkan koneksi tersebut? Saya khawatir kalau penawaran yang baik tersebut saya serahkan, maka dengan mudahnya diberikan dan dikopi oleh Bumi Asih Jaya seperti cerita telur Columbus.


Saya harus menemukan cara membuat saya sejajar dengan mereka dalam tingkat koneksi. Pemikiran yang muncul adalah saya harus mengajak agen lain yang berasal dari suku Batak untuk menjadi mitra saya. Lebih baik berbagi daripada tidak dapat. Begitu pemikiran saya dan kebetulan di AIA(B) terdapat seorang agen wanita yang berasal dari suku Batak, yaitu Netty Herawaty. Dia tidak pernah mempergunakan nama marganya sehingga saya lupa apa marganya. Saya menawarkan kepada Netty untuk menjadi mitra saya dan berbagi 50/50 dari pendapatan yang ada dan tentunya berbagi pekerjaan. Berdasarkan kesepakatan tersebut, kami maju bertemu Pak Ernest Siahaan dan Pak Sihombing melakukan presentasi dan akhirnya kami menang!    Jika pada  Samudera Perdana saya menutup pada puncaknya sekitar 200 orang supir, sekarang 2.500 orang supir President Taxi dan akan terus bertambah.

Bangga sekali rasanya ketika diundang ke ruang kantor Pak Harry Diah, pemilik dan Presiden Direktur AIA(B) menandatangani polis asuransi untuk President Taxi di depan saya sementara sebelumnya
mungkin beliau tidak pernah turun tangan menandatangani sendiri polis asuransi.

MEMILIH ILMU DIBANDING UANG

Baru sekitar 8 bulan sebagai agen asuransi, berusia 20 tahun saya telah memperoleh komisi tetap perbulan sekitar Rp 550.000 per bulan ditambah kesempatan memperoleh klien-klien individu. Pada waktu itu seingat saya kurs USD 1.-  adalah Rp 300 sebelum Indonesia melakukan devaluasi beberapa tahun kemudian menjadi Rp 415. Artinya, pendapatan saya mencapai sekitar sekitar USD 1.800.- per bulan.

Saya juga memenangkan hati sejumlah nama besar yang ketika itu saya tidak tahu bahwa mereka orang besar seperti bos besar Dharmala Group, Hendro Santoso Gondokusumo dan Pak Tohir, tokoh bisnis Indonesia yang anak-anaknya sekarang merupakan pebinis global. Hal lain yang mengesankan, beberapa nasabah meminta saya mengantar polis ke rumahnya dan menjelaskan isi dan manfaat polis di depan isteri dan anak mereka,

Captain Miao melihat potensi saya, baik dari salesmanship maupun keilmuan yang kemudian memang terbukti dan mulai berbicara tentang wawasan ilmu asuransi dan menyarankan saya menabung untuk mengikuti pendidikan Chartered Insurance Institute (CII) dari London yang katanya dapat diikuti secara distance learning dan akan sangat bermanfaat untuk masa  depan saya.  Pemikiran tentang pengembangan ilmu asuransi akhirnya membawa saya pada suatu kesimpulan bahwa saya akan memiliki kesempatan mengembangkan diri lebih baik jika saya bekerja sebagai seorang karyawan. Ketika itu kehidupan rekan-rekan agen senior memang belum menggembirakan seperti sekarang. Itu adalah awal pemikiran yang membawa saya setelah setahun berprofesi sebagai agen berubah menjadi karyawan di perusahaan yang sama. Padahal ketika itu gaji seorang sarjana seingat saya hanya sekitar Rp 100.000 – Rp 150.000.- per bulan apalagi bagi seorang yang ijazah tertingginya hanya tingkat SLA seperti saya. Selanjutnya akan saya tulis dalam episode yang lain.

Jakarta, Jum at, 3 Maret 2017
Dr. Junaedy Ganie